Ntvnews.id, Jakarta - Kim Yo Jong, Direktur Departemen Komite Sentral Partai Pekerja Korea Utara, dengan tegas membantah keterlibatan negaranya dalam insiden peledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang menjadi batas wilayah antara Korea Utara dan Korea Selatan.
Pernyataan tersebut dikeluarkan menyusul hasil penyelidikan pihak Seoul terkait insiden ledakan yang terjadi di wilayah perbatasan selatan.
“Baru-baru ini, para gangster militer Republik Korea kembali melakukan provokasi terhadap DPRK dengan mengumumkan ‘hasil penyelidikan; terkait insiden ledakan ranjau yang terjadi di wilayah perbatasan selatan … Tentu saja, sandiwara semacam ini sama sekali bukan hal baru,” ucap Kim Yo Jong sebagaimana dilansir kantor berita KCNA pada Rabu (30/9).
Berdasarkan laporan Yonhap tertanggal 21 September, insiden ledakan dua ranjau di zona demiliterisasi tersebut melukai tiga orang, termasuk dua prajurit Korea Selatan. Personel militer yang bertugas di lokasi kejadian kemudian mendapati adanya satu ranjau lain yang belum meledak di area yang sama.
Sebagai tindak lanjut, tim gabungan yang terdiri atas unsur militer Korea Selatan dan staf Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) melakukan pemeriksaan lapangan pada Selasa dan menemukan ranjau keempat di kawasan DMZ.
Berdasarkan temuan itu, pihak Korea Selatan meyakini bahwa perangkat mematikan tersebut merupakan ranjau antipersonel milik Korea Utara. Zona Demiliterisasi sendiri merupakan wilayah penyangga yang membentang sepanjang 248 kilometer dari timur ke barat Semenanjung Korea dengan lebar masing-masing dua kilometer di setiap sisi perbatasan serta mencakup total area seluas 907 kilometer persegi.
(Sumber: Antara)
Tentara Korea Selatan berjaga selama tur media di Daerah Keamanan Bersama (JSA) di Zona Demiliterisasi (DMZ) di desa perbatasan Panmunjom di Paju, Korsel, pada 3 Maret 2023. (Antara)