Ntvnews.id, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah daerah di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 939,45 hektare hutan dan lahan masih terbakar dan tengah menjalani proses pemadaman di enam provinsi.
Enam wilayah tersebut menjadi daerah prioritas penanganan karhutla sebagaimana tercantum dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020. Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto menyampaikan data tersebut dalam Rapat Terbatas Perkembangan Penanganan Bencana Alam yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto melalui konferensi video pada Senin, 7 September 2026.
Suharyanto mengatakan, total luas lahan gambut yang terdampak kebakaran di enam provinsi prioritas tersebut mencapai 72.009 hektare. Wilayah itu meliputi Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, dan Jambi.
Baca Juga: BNPB Lapor Prabowo Aktivitas Gempa Flores Menurun, 72.864 Warga Masih Mengungsi
"Kami sudah berhasil memadamkan 71.069,65 hektare. Nah, di enam provinsi per hari ini yang sedang kami padamkan 939,45 hektare," kata Suharyanto.
Adapun luas lahan yang masih dalam proses pemadaman tersebar di sejumlah wilayah, yakni:
-
Kalimantan Barat: 97,8 hektare
-
Riau: 283,35 hektare
-
Kalimantan Selatan: 116,3 hektare
-
Kalimantan Tengah: 91,3 hektare
-
Sumatra Selatan: 341,7 hektare
-
Jambi: 9 hektare
Dari keseluruhan luas lahan yang terbakar, sekitar 14.711 hektare berada di kawasan konsesi. Sementara itu, 57.298,02 hektare lainnya merupakan lahan masyarakat serta kawasan hutan.
Data mengenai luas karhutla tersebut diperoleh melalui pemantauan titik panas atau hotspot berbasis satelit yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi kemudian diverifikasi melalui patroli udara menggunakan helikopter dan pemeriksaan langsung di lapangan.
Baca Juga: Ketua Ombudsman Tak Hadir Rapat dengan DPR, Gara-gara Bandara Soetta Ditutup
Suharyanto menjelaskan, luas area yang masih terbakar bersifat dinamis dan dapat berubah dari hari ke hari. Luasan tersebut bisa menurun setelah proses pemadaman dilakukan, tetapi berpotensi kembali meningkat apabila muncul titik api baru atau kebakaran yang sebelumnya telah dinyatakan padam kembali muncul.
"Apakah 939,45 ini setelah dipadamkan hari ini besok berkurang, mudah-mudahan berkurang Bapak Presiden. Tapi kadang-kadang juga tidak berkurang signifikan karena hari ini juga ditemukan titik kebakaran yang baru, atau kebakaran yang lama yang sudah dipadamkan yang sudah dilaporkan padam, tiba-tiba hidup kembali. Itulah kesulitannya lahan gambut di enam provinsi prioritas ini," katanya.
Karakteristik lahan gambut menjadi salah satu kendala terbesar dalam penanganan karhutla. Meski api di permukaan telah berhasil dipadamkan, asap masih bisa muncul dari bagian dalam gambut sehingga berpotensi mengganggu kualitas udara dan jarak pandang.
Dugaan Pembakaran Sengaja, Pelaku Disebut Dibayar Rp500 Ribu
Di tengah proses pemadaman, pemerintah juga terus melakukan penindakan terhadap pihak yang diduga sengaja membakar hutan dan lahan. Suharyanto mengungkapkan adanya kasus pembakaran yang diduga dilakukan atas perintah pihak tertentu.
Salah satu kasus ditemukan di Jambi. Aparat menangkap seorang pelaku yang diduga menerima bayaran untuk melakukan pembakaran lahan.
"Di Jambi ada pelaku pembakaran hutan dan memang disuruh dengan uang hanya Rp500.000, diberi upah begitu," ungkapnya.
Sementara itu, di Kalimantan Barat, BNPB menemukan indikasi bahwa lahan yang baru saja terbakar berpotensi dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit. Indikasi tersebut terlihat dari adanya persiapan lahan untuk penanaman sawit di sekitar area yang baru terbakar.
Pemerintah memastikan upaya pemadaman dan penegakan hukum terhadap kasus karhutla akan terus dilanjutkan hingga situasi terkendali, termasuk dengan mempertimbangkan datangnya musim hujan.
Karhutla di Luar Enam Provinsi Prioritas
BNPB juga menangani kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah yang berada di luar enam provinsi prioritas. Total luas area yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 705,1 hektare.
Rinciannya meliputi:
-
IKN, Kalimantan Timur: 458 hektare
-
Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat: 223,5 hektare
-
Kawasan Gunung Butak, Jawa Timur: 16,5 hektare
-
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kota Surakarta, Jawa Tengah: 4,6 hektare
-
Kawasan Gunung Ijen, Jawa Timur: 2,5 hektare
Suharyanto mengatakan penanganan di masing-masing wilayah terus dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik lokasi dan tingkat kesulitan pemadaman. Menurutnya, kebakaran pada wilayah non-gambut umumnya lebih mudah dikendalikan dibandingkan karhutla yang terjadi di lahan gambut.
"Untuk daerah-daerah lain yang tidak lahan gambut ini mudah dipadamkan. Kalau satgas daratnya nanti dengan dibantu operasi satgas udara, helikopter water bombing, biasanya segera bisa padam," ujarnya.
Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Penanganan Bencana Alam Gempa NTT, Erupsi Anak Gunung Krakatau, dan Perkembangan Penanganan Karhutla dengan para Kepala Daerah (Istimewa)