Ntvnews.id, Jakarta - Aktivitas gempa bumi yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai mengalami penurunan. Meski demikian, gempa susulan masih terus tercatat hingga memasuki hari ke-24 sejak gempa pertama terjadi pada 15 Agustus 2026.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto menyampaikan perkembangan tersebut dalam Rapat Terbatas Penanganan Bencana Alam bersama Presiden Prabowo Subianto yang digelar melalui konferensi video pada Senin, 7 September 2026.
"Dari mulai awal tanggal 15 Agustus 2026 sampai sekarang tercatat ada 13.156 kali gempa," kata Suharyanto.
Menurut Suharyanto, tren penurunan aktivitas seismik mulai terlihat pada minggu keempat September 2026. Pada periode tersebut tercatat sebanyak 364 gempa, tetapi tidak ada satu pun yang dirasakan secara signifikan oleh masyarakat.
"Artinya secara umum kondisi gempa di Flores menunjukkan penurunan. Meskipun untuk berhenti secara total kembali seperti semula ini masih memerlukan waktu kurang lebih satu bulan," ujarnya.
Dalam laporannya, Suharyanto juga menyampaikan perkembangan korban akibat gempa Flores. Hingga saat ini, sebanyak 48 orang tercatat meninggal dunia sebagai dampak langsung bencana tersebut. Tidak ada penambahan korban jiwa yang disebabkan oleh gempa susulan.
Selain itu, terdapat 87 orang yang meninggal dunia secara tidak langsung. Menurut Suharyanto, mereka umumnya meninggal karena penyakit bawaan, menjalani perawatan, atau faktor alamiah lainnya dan tidak berkaitan dengan gempa susulan.
Baca Juga: Prabowo: Respons Pemerintah Tangani Bencana Kini Lebih Cepat Dibanding Tahun Sebelumnya
Sementara itu, jumlah warga yang masih berada di pengungsian terus berkurang sejalan dengan melemahnya aktivitas gempa. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang mulai kembali ke kediaman masing-masing untuk melakukan perbaikan.
"Saat Bapak Presiden datang ke daerah bencana itu kami masih melaporkan sebanyak 179.037 jiwa yang masih mengungsi, per hari ini tinggal 72.864 jiwa," kata Suharyanto.
Saat ini, sebagian besar pengungsi yang masih bertahan merupakan warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Pemerintah pun secara bertahap menyediakan hunian sementara serta dana tunggu hunian bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam pemenuhan kebutuhan para korban terdampak, BNPB mencatat total 2.142 ton bantuan logistik telah dikirim ke wilayah Flores. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.368 ton disalurkan melalui Labuan Bajo untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di empat kabupaten, yaitu Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada.
Adapun 629 ton logistik lainnya dikirim melalui Maumere untuk disalurkan ke tiga kabupaten, yakni Sikka, Ende, dan Nagekeo.
Suharyanto menuturkan, posko logistik nasional BNPB yang sebelumnya berada di Halim telah ditutup karena mayoritas kebutuhan bantuan telah dikirim ke wilayah Flores.
"Logistik-logistik juga sudah masuk banyak ke Flores, tidak ada lagi yang menumpuk di Jakarta. Kami pindahkan ke gudang logistik BNPB di Jatiasih," ujarnya.
Meski posko logistik nasional di Halim telah dihentikan operasionalnya, pemerintah memastikan distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak tetap berlangsung. Penyaluran akan disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan laporan dari para bupati, wali kota, serta posko kabupaten dan kota di daerah terdampak.
Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas Penanganan Bencana Alam Gempa NTT, Erupsi Anak Gunung Krakatau, dan Perkembangan Penanganan Karhutla dengan para Kepala Daerah (Istimewa)