Bukan Cuma Akademik, Sekolah Rakyat Ubah Karakter Anak Jadi Lebih Baik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Agu 2026, 19:18
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Tangkapan layar: Suasana belajar-mengajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang berfokus pada pengembangan karakter dan kedisiplinan siswa. Tangkapan layar: Suasana belajar-mengajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang berfokus pada pengembangan karakter dan kedisiplinan siswa. ( youtube : Badan Komunikasi Pemerintah RI)

Ntvnews.id, Kediri - Perubahan seorang anak tidak selalu terlihat dari nilai yang tertera di rapor. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri, Jawa Timur, perubahan itu justru mulai tampak dari hal-hal sederhana, seperti cara siswa berbicara kepada guru, kerapian penampilan, kemampuan bergaul dengan teman, hingga kebiasaan menjalankan ibadah.

Guru Biologi di SRT 1 Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Ima Masfatus Sholihah, melihat sendiri perubahan tersebut selama mendampingi para siswa. Menurutnya, ketika pertama kali masuk Sekolah Rakyat, karakter dan perilaku siswa masih sangat beragam. Ada yang belum terbiasa bersikap tertib, kurang rapi, bahkan masih kesulitan membangun hubungan sosial dengan teman-temannya.

"Awal kita menerima siswa itu semuanya kelas 10, awal masuk itu perilakunya masih sangat variatif, masih belum terarah," ujar Ima, Jumat, 21 Agustus 2026.

Namun, proses pendampingan yang dilakukan secara konsisten selama satu tahun mulai menunjukkan hasil. Kedisiplinan, kerapian, kemampuan mengelola emosi, hingga sikap siswa kepada guru dan tenaga kependidikan perlahan mengalami perubahan.

Baca juga: 93 Sekolah Rakyat Permanen Dibuka, Harapan Baru bagi Anak-Anak Keluarga Tidak Mampu

Perubahan juga terlihat dari penampilan. Siswa yang ketika pertama masuk memiliki gaya berpakaian dan rambut yang sangat beragam, kini mulai terbiasa dengan penampilan yang lebih rapi dan tertib sesuai aturan sekolah.

“Ada yang rambutnya, mohon maaf, sedikit seperti anak punk,” kata dia mengenang.

Bagi Ima, perubahan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan karakter yang berjalan bersamaan dengan pendidikan akademik.

Dari Sulit Bergaul Jadi Lebih Terbuka Ima mengatakan, pada awal masuk Sekolah Rakyat terdapat siswa yang cenderung tertutup dan hanya bergaul dengan kelompok tertentu. Ada pula yang masih kesulitan menyesuaikan diri dengan teman-temannya.

Baca juga: Dari Panggung GBN hingga Sekolah Rakyat, Semangat Generasi Muda Tampil di Istana pada Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI

Untuk membantu siswa lebih terbuka, para guru dan wali asuh membangun berbagai kebiasaan yang mendorong mereka berinteraksi dengan lebih banyak teman. Salah satunya dilakukan melalui pengaturan tempat duduk saat makan agar siswa tidak selalu berada dalam kelompok yang sama.

“Kadang semeja dengan teman A, teman B, teman C, teman yang lain. Jadi tidak melulu anak hanya bersosialisasi dengan satu orang,” jelas Ima.

Perlahan, siswa mulai terbiasa hidup bersama dengan teman yang memiliki karakter berbeda. Mereka belajar berkomunikasi, memahami satu sama lain, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik.

Perubahan tersebut menjadi semakin bermakna ketika kebiasaan yang dibentuk di Sekolah Rakyat mulai terlihat saat siswa kembali ke rumah. Ima menceritakan pengalaman saat melakukan kunjungan ke rumah salah satu murid setelah satu semester berjalan.

Orang tua siswa tersebut mengaku melihat perubahan pada kebiasaan anaknya, terutama dalam menjalankan ibadah. Jika sebelumnya sang anak masih harus diingatkan bahkan dimarahi untuk melaksanakan salat, setelah mengikuti pembiasaan di Sekolah Rakyat, ia mulai menjalankan salat lima waktu secara lebih teratur, termasuk ketika berada di rumah saat masa libur.

Baca juga: Banyak Siswa Sekolah Rakyat Berprestasi, Prabowo: Bukti Anak Kurang Mampu Bisa Jika Difasilitasi

Hal ini membuktikan bahwa pembentukan karakter peserta didik di Sekolah Rakyat tidak sekadar pada aktivitas pembelajaran di dalam kelas. Nilai kedisiplinan, kerapian, sopan santun, kemampuan bersosialisasi, hingga kebiasaan menjalankan ibadah perlahan menjadi bagian dari keseharian siswa.

Proses tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan di Sekolah Rakyat. Sebab, sekolah tidak hanya bertugas membantu siswa mengejar kemampuan akademik, tetapi juga mendampingi mereka untuk membangun sikap dan karakter sebagai bekal menjalani kehidupan di masa depan.

"Di Sekolah Rakyat ini kita tidak hanya berfokus di akademik. Kita juga berfokus di karakter," tuturnya.

Ima berharap Sekolah Rakyat dapat terus menjadi ruang pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak-anak dari keluarga rentan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Baginya, setiap perubahan kecil dalam diri siswa merupakan bagian dari proses yang lebih besar untuk membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mandiri, dan siap meraih cita-cita.

Kisah Ima Masfatus Sholihah dalam merasakan manfaat Program Sekolah Rakyat dapat disaksikan selengkapnya hanya dalam program Podcast Sinergi Indonesia di YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI.

HIGHLIGHT

x|close