Trump Ancam Bombardir Oman jika Campuri Negosiasi AS-Iran Soal Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Agu 2026, 09:42
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada Rabu, 8 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada Rabu, 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Oman di tengah upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan dengan Iran. Trump memperingatkan Washington dapat mengambil tindakan militer jika Oman dianggap menghambat negosiasi AS-Iran, khususnya terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Ancaman tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (17/8/2026). Saat ditanya mengenai keterlibatan Oman dalam perundingan dengan Iran dan situasi di Selat Hormuz, Trump menegaskan tidak akan membiarkan negara tersebut mengganggu proses negosiasi.

"Jika Oman menghalang-halangi, kami akan membombardir mereka habis-habisan," ujar Trump kepada Fox News pada Senin (17/8/2026).

Pernyataan Trump muncul setelah Iran dan Oman dilaporkan mencapai kemajuan dalam pembahasan mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pada Sabtu (15/8/2026), Iran menyatakan telah menyepakati peta rute pelayaran bersama Oman setelah kedua negara menjalani negosiasi teknis selama beberapa pekan.

Trump juga kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran. Menurutnya, Teheran seharusnya menunjukkan tanda menyerah di tengah tekanan yang terus meningkat dari Washington.

"Mereka pemain poker yang hebat, tetapi mereka sedang sekarat," kata Trump, sembari menyerukan Iran untuk mengibarkan "bendera putih tanda menyerah."

Baca Juga: Raja Salman dan Pangeran MbS Sampaikan Belasungkawa ke Prabowo atas Gempa NTT

Dalam kesempatan tersebut, Trump turut mengungkap adanya jalur komunikasi tidak resmi antara pemerintah AS dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Ia mengklaim komunikasi tersebut berlangsung secara langsung dengan sejumlah pejabat IRGC.

"Kami memiliki jalur komunikasi tidak resmi dengan IRGC. Kami berbicara langsung dengan para pejabat IRGC di Iran," kata Trump, sebagaimana dilansir Anadolu.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh IRGC. Korps elite Iran itu menyatakan tidak terlibat dalam pembicaraan dengan pihak AS. Di sisi lain, pejabat Iran pada Senin mengatakan bahwa pembahasan dengan Oman mengenai pengaturan pengiriman melalui Selat Hormuz telah mendekati tahap final.

Situasi tersebut berlangsung bersamaan dengan berakhirnya Memorandum of Understanding (MoU) selama 60 hari yang menjadi dasar bagi AS dan Iran untuk melanjutkan pembicaraan menuju kesepakatan akhir.

Oman sendiri menyatakan posisinya sebagai negara netral dalam konflik yang melibatkan Iran. Meski demikian, negara tersebut dilaporkan mengalami sejumlah serangan dari Iran sejak konflik pecah. Kini, Oman justru mengambil peran penting sebagai mediator dalam pembicaraan yang bertujuan memulihkan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Selat tersebut menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik karena merupakan jalur utama perdagangan energi global. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari, Teheran memblokir sebagian besar jalur air tersebut.

Padahal, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati Selat Hormuz. Karena itu, pembukaan kembali jalur pelayaran menjadi salah satu agenda utama dalam perundingan yang melibatkan Iran, Oman, dan AS.

HIGHLIGHT

x|close