Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan Bersama di Tengah Gejolak Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Agu 2026, 09:39
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi teken pakta pertahanan bersama Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi teken pakta pertahanan bersama (Reuters)

Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi, Turki, dan Pakistan secara mengejutkan menandatangani perjanjian pertahanan bersama pada Jumat, 7 Agustus 2026 pekan lalu. Kesepakatan tersebut dibuat ketika situasi keamanan di kawasan tengah memanas akibat serangan kelompok Houthi serta konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dilansir dari AFP, Senin, 10 Agustus 2026, Arab Saudi berupaya memperkokoh kerja sama keamanannya di tengah perang AS-Iran yang telah berdampak terhadap sejumlah negara di kawasan. Konflik tersebut juga turut mengganggu aktivitas pelayaran di jalur strategis Selat Hormuz dan Laut Merah.

Perang regional yang berlangsung saat ini dinilai semakin memberikan ruang bagi Iran dan sekutunya di Yaman, Houthi. Kedua pihak sebelumnya diketahui telah melancarkan serangan terhadap Arab Saudi. Di saat yang sama, para analis menilai AS kini semakin dianggap sebagai mitra yang kurang dapat diandalkan dalam menghadapi dinamika keamanan kawasan.

Melalui pernyataan bersama yang dikeluarkan kantor berita resmi Arab Saudi dan Kementerian Luar Negeri Pakistan, ketiga negara mengumumkan penandatanganan Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah. Kesepakatan itu mencerminkan komitmen ketiganya untuk meningkatkan keamanan kolektif sekaligus mendorong terciptanya perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan maupun wilayah sekitarnya.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menjelaskan, isi pakta tersebut menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Kesepakatan itu juga ditujukan untuk memperkuat kemampuan pencegahan secara bersama-sama.

Baca Juga: Prabowo Akan Serahkan Sertifikat Tanah Gratis untuk Rumah MBR di Cirebon

Meski demikian, Ankara menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak diarahkan kepada negara tertentu. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di X oleh direktur komunikasi kepresidenan Turki.

Turki juga menyatakan bahwa pakta tersebut tidak bertentangan dengan berbagai komitmen internasional yang telah dimiliki Ankara, termasuk kewajibannya dalam aliansi NATO.

Sementara itu, Riyadh menegaskan bahwa kesepakatan pertahanan tersebut bukan langkah untuk membentuk blok militer ataupun poros berdasarkan sektarianisme.

"Hal ini juga tidak terkait dengan ambisi nuklir atau perlombaan senjata apa pun, melainkan berfokus pada pembangunan kemampuan yang berkelanjutan," kata Wakil Menteri Diplomasi Publik Arab Saudi, Rayed Krimly, melalui media sosial X.

"Hal itu tidak merupakan ancaman terhadap keamanan negara mana pun di kawasan ini," imbuhnya.

Sejak konflik regional pecah, Arab Saudi diketahui semakin mempererat hubungan dengan Turki, Mesir, dan Pakistan. Ketiga negara tersebut turut mendorong berbagai upaya mediasi serta penyelesaian konflik di kawasan.

Umar Karim, pakar kebijakan luar negeri Arab Saudi dari Universitas Birmingham, Inggris, menilai keselarasan ketiga negara tersebut memiliki orientasi yang jelas terhadap Iran. Menurutnya, kerja sama tersebut juga ditujukan untuk menghadapi perubahan strategi Iran yang dinilai berupaya memperluas pengaruhnya di kawasan Teluk.

“Fakta bahwa Turki dan Pakistan berbatasan dengan Iran berarti mereka dapat menggunakan pengaruh yang berbeda terhadap Teheran,” ujar Karim.

Seorang sumber yang memiliki kedekatan dengan militer dan pemerintahan Arab Saudi mengatakan kepada AFP sebelum pakta tersebut ditandatangani bahwa pembahasan mengenai perjanjian telah berlangsung cukup lama. Namun, perkembangan keamanan terbaru di kawasan disebut mempercepat proses hingga akhirnya kesepakatan tersebut ditandatangani.

Andreas Krieg dari King's College London menilai pakta tersebut menunjukkan adanya keinginan yang kuat dari ketiga negara untuk memperluas pilihan aliansi pertahanan mereka di luar AS.

"Arab Saudi, Turki, dan Pakistan tidak berusaha menggantikan AS. Mereka justru sedang membangun kemampuan untuk melindungi kepentingan mereka ketika Washington DC tidak mampu atau tidak mau melakukannya. Riyadh khususnya, menginginkan beberapa lapisan keamanan daripada satu payung Amerika setelah guncangan perang Iran," ungkap dia.

Krieg menambahkan, kesepakatan tersebut dapat memperkuat ambisi Arab Saudi untuk memainkan peran sebagai pengatur keamanan regional sekaligus memperluas pilihan dalam hal perlindungan pertahanan. Bagi Turki dan Pakistan, kerja sama ini juga berpotensi memberikan tambahan pengaruh politik serta membuka akses terhadap peluang investasi dari Arab Saudi.

NEWS TERKAIT

HIGHLIGHT

x|close