Hampir 270 Ribu Warga Israel Tinggalkan Negaranya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Agu 2026, 09:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bendera Israel/ist Bendera Israel/ist

Ntvnews.id, Tel Aviv - Gelombang perpindahan warga Israel ke luar negeri meningkat di tengah konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah. Dalam tiga tahun terakhir sejak 2023, sekitar 268.000 warga Israel dilaporkan meninggalkan negara tersebut.

Dilansir dari Anadolu Agency, Rabu, 5 Agustus 2026, Yedioth Ahronoth melaporkan hasil studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Universitas Tel Aviv. Studi tersebut menunjukkan bahwa arus migrasi warga Israel sejak 2023 mencapai level rekor dan semakin mengkhawatirkan pada tahun berikutnya.

Berdasarkan penelitian itu, sebanyak 86.509 warga Israel meninggalkan negaranya selama setidaknya tiga bulan berturut-turut pada 2023. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 91.499 orang pada 2024 dan 90.922 orang pada 2025.

Catatan tersebut menjadi angka tertinggi dibandingkan periode-periode sebelumnya. Sebagai perbandingan, sepanjang 2013 hingga 2015, jumlah warga Israel yang pergi untuk jangka panjang tercatat sekitar 183.219 orang.

Secara keseluruhan, studi tersebut memperkirakan hampir 270.000 warga Israel meninggalkan negaranya dalam periode 2023-2025. Rata-rata jumlah keberangkatan mencapai sekitar 90.000 orang setiap tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata sekitar 60.000 orang per tahun pada periode 2010-2019.

Baca Juga: Hamas Tegaskan Pelucutan Senjata Baru Dibahas Setelah Israel Tinggalkan Gaza

Profesor Itai Ater dari Sekolah Manajemen Coller Universitas Tel Aviv yang memimpin penelitian tersebut menilai peningkatan jumlah warga yang meninggalkan Israel dalam jangka panjang sebagai kondisi yang "sangat mengkhawatirkan."

"Bahaya sesungguhnya terletak pada hilangnya keseimbangan dan kemungkinan bahwa angka emigrasi akan terus meningkat daripada tetap pada tingkat saat ini," ia memperingatkan.

Menurut laporan Yedioth Ahronoth, hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan keseimbangan migrasi setelah sebelumnya relatif stabil selama bertahun-tahun. Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah warga Israel yang memilih meninggalkan negaranya.

Media tersebut juga mengutip penelitian sebelumnya yang menemukan adanya kenaikan signifikan jumlah dokter, pemegang gelar PhD, insinyur, akademisi, hingga masyarakat berpenghasilan tinggi yang meninggalkan Israel.

Fenomena tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan karena perekonomian Israel sangat bergantung pada tenaga kerja dengan kemampuan dan pendidikan tinggi.

"Ekonomi Israel tidak kaya akan sumber daya alam dan sangat bergantung pada modal manusia berkualitas tinggi yang terkonsentrasi di sektor teknologi tinggi dan industri intensif pengetahuan lainnya," kata surat kabar itu.

Penelitian tersebut muncul ketika Israel masih melanjutkan operasi militernya di Gaza yang dimulai sejak 8 Oktober 2023. Dalam perkembangannya, Tel Aviv juga memperluas operasi militer ke Lebanon, Suriah, Yaman, dan Iran.

Berdasarkan data resmi pemerintah Israel, jumlah penduduk negara tersebut kini telah melampaui 10 juta jiwa.

HIGHLIGHT

x|close