Ntvnews.id, Istanbul - Hamas menegaskan tidak akan membahas maupun mengambil langkah terkait pelucutan senjata sebelum seluruh pasukan Israel angkat kaki dari Jalur Gaza. Pernyataan tersebut disampaikan pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, pada Jumat, 31 Juli 2026.
Hamad yang merupakan anggota delegasi perundingan Hamas mengatakan persoalan pelucutan senjata berkaitan langsung dengan penarikan militer Israel dari Gaza serta proses rekonstruksi wilayah tersebut.
Dalam wawancara dengan saluran Al Jazeera yang berbasis di Qatar, Hamad menegaskan Israel tidak akan dilibatkan dalam mekanisme pelucutan senjata. Menurutnya, proses tersebut nantinya akan dijalankan oleh sebuah badan nasional Palestina.
Ia juga menegaskan Hamas tidak akan melakukan proses pelucutan senjata sebelum Israel memenuhi seluruh kewajibannya sesuai kesepakatan yang telah dicapai.
Hamad menggambarkan proses negosiasi berlangsung "sulit dan berat". Meski demikian, ia menegaskan Hamas terus berupaya memperoleh hasil terbaik sembari mempertahankan komitmen untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina.
Baca Juga: Hamas Tegaskan Tolak Pelucutan Senjata dan Intervensi Asing di Gaza Palestina
Selain itu, Hamad menyampaikan apresiasi kepada Mesir, Qatar, dan Turki atas peran mereka dalam memediasi perundingan hingga tercapainya kesepakatan.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa telah tercapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata secara menyeluruh terhadap Hamas beserta kelompok-kelompok bersenjata lain di Gaza.
Dalam skema itu, penarikan pasukan Israel akan dilakukan secara bertahap.
Trump juga mengapresiasi kontribusi Mesir, Qatar, dan Turki dalam proses mediasi yang menghasilkan apa yang ia sebut sebagai "terobosan bersejarah".
Menurut Trump, implementasi kesepakatan akan dilakukan secara bertahap. Pasukan Stabilisasi Internasional nantinya akan bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru untuk mengambil alih tanggung jawab menjaga keamanan di Jalur Gaza.
Perang yang disebut sebagai genosida Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan menyebabkan lebih dari 174.000 orang lainnya terluka. Korban didominasi perempuan dan anak-anak, sementara sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut mengalami kerusakan.
Baca Juga: Hamas Kutuk Kelakuan Israel di Tepi Barat
Gencatan senjata itu dimediasi melalui rencana 20 poin Trump untuk Gaza yang berada di bawah pengawasan Dewan Perdamaian yang dipimpinnya.
Meski gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan setiap hari di berbagai wilayah Gaza. Serangan tersebut mengakibatkan 1.214 warga Palestina tewas, 3.977 lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menimbulkan kerusakan besar di berbagai kawasan.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Pejuang Hamas (Antara)