Ntvnews.id, Gaza - Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian menegaskan bahwa penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza baru akan dilakukan setelah proses pelucutan senjata Hamas dituntaskan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Direktur BoP Nickolay Mladenov bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem Barat.
"Bertentangan dengan laporan yang tidak akurat, kami mencatat bahwa penarikan [militer Israel] di luar Garis Kuning hanya akan terjadi setelah pelucutan senjata selesai, seperti yang dijanjikan Hamas kepada pada mediator," demikian pernyataan Dewan Perdamaian., dikutip dari Al Jazeera, Rabu 5 Agustus 2026.
BoP menegaskan bahwa proses pelucutan tersebut mencakup berbagai jenis persenjataan serta fasilitas militer yang dimiliki Hamas.
"Ini berlaku untuk senjata ringan, senjata berat, dan terowongan," lanjut pernyataan BoP, dilansir Al Jazeera.
Garis Kuning atau Yellow Line merupakan zona demarkasi militer di Jalur Gaza yang menjadi batas antara wilayah di bagian timur dan utara yang berada sepenuhnya di bawah kendali militer Israel dengan kawasan barat yang menjadi tempat tinggal masyarakat sipil Palestina.
Baca Juga: Hamas Sepakat Lucuti Senjata, Tahap Kedua Gencatan Senjata Gaza Siap Dimulai
BoP menyatakan bahwa pelucutan senjata Hamas merupakan bagian penting dari tujuan kesepakatan yang tengah dijalankan.
"Tujuannya jelas dan tidak perlu dipertanyakan: pelucutan senjata secara menyeluruh di Jalur Gaza dan transisi dari pemerintahan dengan senjata, ke pemerintahan sipil," lanjut pernyataan itu.
Di sisi lain, Hamas menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak akan dijalankan apabila Israel belum memenuhi kewajibannya sebagaimana tercantum dalam perjanjian.
Dalam pertemuan dengan Netanyahu, Mladenov juga meminta pemerintah Israel menghentikan serangan militernya terhadap Jalur Gaza.
Namun, Israel tetap menolak menghentikan operasi militernya meskipun telah ada kesepakatan "gencatan senjata" yang diberlakukan pada Oktober 2025. Sejak saat itu, serangan Israel dilaporkan telah menyebabkan lebih dari 1.200 warga Palestina meninggal dunia.
Ilustrasi - Anggota pasukan Brigade Al Qassam, sayap militer kelompok perlawanan Hamas Palestina. (ANTARA/Anadolu/as/am.) (Antara)