Ntvnews.id, Taheran - Militer Iran memperkenalkan sistem pertahanan udara terbaru yang kini telah resmi dioperasikan di tengah kembali meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat setelah sebelumnya sempat terjadi gencatan senjata. Teheran mengklaim kehadiran sistem tersebut akan memperkuat kemampuan tempur sekaligus meningkatkan kapasitas menghadapi pesawat-pesawat musuh.
Dilansir dari Al Arabiya, Kamis, 23 Juli 2026, Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami Nia, mengatakan perangkat pertahanan udara terbaru itu telah mulai beroperasi dan mampu meningkatkan kemampuan pasukan dalam merespons ancaman dari udara "dengan kekuatan yang jauh lebih besar".
Dalam keterangannya kepada media, Akrami Nia menyebut Iran saat ini tengah berada dalam "momen bersejarah yang sangat sensitif".
Ia menambahkan, kinerja rakyat Iran, Angkatan Darat, serta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) diyakini akan semakin memperkuat posisi negara tersebut, baik di kawasan maupun di tingkat internasional.
Akrami Nia kembali menegaskan bahwa Iran tidak pernah berupaya memperoleh senjata nuklir. Menurutnya, Amerika Serikat menjadikan tuduhan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan serangan militer sekaligus menjatuhkan tekanan dan sanksi terhadap Teheran.
Baca Juga: Biaya Perang AS Melawan Iran Tembus Rp671 Triliun, Pentagon Minta Tambahan Dana
Ia juga menilai Washington telah melakukan kesalahan strategis dalam membaca kondisi Iran. Menurut Akrami Nia, AS keliru menganggap kekuatan militer Iran melemah setelah menjadi sasaran serangan selama sebelas hari terakhir.
Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pejabat AS yang menyebut perang telah membuat Iran berada dalam posisi lemah. Trump bahkan mengklaim Teheran telah memohon agar perundingan kembali dilakukan.
Sebaliknya, Akrami Nia menegaskan angkatan bersenjata Iran telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik semacam itu selama bertahun-tahun melalui latihan militer intensif dan perencanaan yang matang.
Foto yang diambil pada 20 April 2026 ini menunjukkan bendera nasional Iran berkibar di sebuah bangunan yang rusak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran. (Antara)
Ia juga mengungkapkan bahwa militer Iran memiliki kemampuan untuk merespons apa yang disebutnya sebagai tindakan agresi dalam waktu kurang dari dua jam berkat kesiapan operasional, pelatihan, dan dukungan logistik yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Selain itu, Akrami Nia menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan di akademi-akademi militer Iran, terutama Universitas Komando dan Staf, selama dua dekade terakhir difokuskan pada berbagai skenario peperangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Menurutnya, pendekatan tersebut telah membekali para komandan militer dengan kemampuan untuk mengelola konflik serupa sekaligus memberikan respons secara cepat ketika menghadapi ancaman.
Ilustrasi - Rudal Iran. (Antara)