Ntvnews.id, Jakarta -Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menekankan pentingnya membangun fondasi pengasuhan tanpa kekerasan sejak masa calon pengantin sebagai langkah awal menciptakan keluarga yang harmonis.
Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastutiningsih mengatakan, pembentukan keluarga yang harmonis dan bebas dari kekerasan harus diawali dengan persiapan menuju pernikahan.
"Bicara pengasuhan tanpa kekerasan, kita akan bicara bagaimana rumah tangga yang ideal, karena rumah tangga ideal itu kan rumah tangga yang tanpa kekerasan, sehingga anak yang tumbuh di keluarga yang ideal tadi, yang tanpa kekerasan akan jadi anak-anak yang sehat, cerdas, dan hebat," katanya di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.
Menurut Yuni, Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai lembaga, terutama Kementerian Agama (Kemenag), untuk meningkatkan pembinaan bagi calon pengantin.
Baca juga: BKKBN: SDM Tanpa Stunting Jadi Kunci Indonesia Maju 2045
"Karena menikah itu sebenarnya bukan hanya persiapan emosional saja untuk menikah, tetapi harus diperhitungkan bahwa saat menikah nanti itu pasti punya anak, pasti ada kebutuhan yang bertambah, suami seperti apa, peran istri apa, pembagiannya seperti apa," ujar dia.
Selain pembinaan bagi calon pengantin, Kemendukbangga/BKKBN juga terus menyosialisasikan pentingnya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga kepada Tim Pendamping Keluarga (TPK). Edukasi tersebut mencakup persiapan pernikahan bagi calon pengantin, bahkan sejak memasuki usia remaja melalui Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R).
Yuni menilai remaja perlu memahami peran mereka sebagai ayah maupun ibu ketika telah berkeluarga dan memiliki anak.
Baca juga: Polisi Tetapkan 5 Tersangka Baru Dalam Kasus Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha
"Atau bahkan kalau sekarang ini karena minimnya literasi, masyarakat belum paham, mereka kalau anak dimarahi, dipukul misalnya, atau ibunya yang dipukul, maka besok kalau bapaknya pergi bisa jadi ibunya juga bisa melakukan kekerasan pada anaknya," tuturnya.
Ia menegaskan bahwa kekerasan merupakan energi yang tidak hilang, melainkan berpindah dari satu orang ke orang lain.
"Biasanya kalau ibu yang mengalami kekerasan, maka jangan heran jika anaknya ikut mendapat perlakuan kasar, oleh karena itu perlu ditanya dulu bagaimana sikap bapak kepada ibunya karena keluarga yang lembut, harmonis, yang akan menjadikan anak-anak hebat, itu biasanya tangki kasih sayangnya itu penuh," ucap Yuni.
(Sumber: Antara)
Pelaksana Tugas Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN Yuni Hastutiningsih dalam diskusi bersama media di Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Antara)