Ntvnews.id, Jakarta - Di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-80 di New York tahun lalu, saya mendapat kesempatan yang tidak akan saya lupakan. Mendampingi Presiden Prabowo Subianto bertemu Michael Bloomberg di kantor pusat Bloomberg.
Pertemuan itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang istimewa. Setiap September, New York dipenuhi para kepala negara yang menghadiri UNGA. Jadwal mereka padat.
Namun jadwal Michael Bloomberg jauh lebih padat lagi. Pendiri Bloomberg LP sekaligus mantan Wali Kota New York itu dikenal sangat selektif menerima tamu. Ia hampir tidak pernah meluangkan waktu untuk menemui para kepala negara yang sedang berada di New York.
Baca Juga: Prabowo Sebut Kehormatan Bisa Berpidato Urutan Ketiga di Sidang Umum PBB
Karena itu saya terkejut ketika mendapat kabar bahwa justru Mike Bloomberg sendiri yang berinisiatif bertemu Presiden Prabowo. Melalui timnya, Mike menawarkan untuk datang ke hotel tempat Presiden Prabowo menginap.
Namun jawaban Presiden Prabowo:
“Tidak perlu. Saya saja yang datang ke kantor Pak Mike. Beliau lebih senior.”
Kalimat singkat itu bukan sekadar soal etika.
Itu adalah penghormatan kepada seseorang yang telah membangun perusahaan kelas dunia dari nol, memimpin salah satu kota paling kompleks di dunia selama 12 tahun, dan meninggalkan banyak warisan kebijakan yang menjadi kebijakan percontohan dunia.
Sesampainya di kantor Bloomberg, saya justru tidak menemukan apa yang selama ini identik dengan kantor seorang miliarder.
Tidak ada ruang khusus CEO yang luas.
Michael Bloomberg duduk di tengah ruang kerja terbuka. Meja kerjanya sama seperti meja karyawan lainnya.
Di sekelilingnya para analis, editor, programmer, dan wartawan Bloomberg bekerja di depan monitor yang terus menampilkan pergerakan pasar keuangan dunia.
Sulit dipercaya.
Salah satu orang terkaya di dunia bekerja persis seperti pegawai biasa.
Ketika Presiden Prabowo datang menghampirinya, Mike tidak mengajak beliau masuk ke ruang tamu khusus. Tidak ada ruang kehormatan.
Baca Juga: Danantara dan Bloomberg Bakal Garap Dua Proyek Ini
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Michael Bloomberg dan delegasi di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa, 18 November 2025. (Instagram)
Ia menerima Presiden tepat di meja tempat ia bekerja setiap hari.
Di tengah para pegawainya.
Di tengah suara keyboard yang tidak pernah berhenti.
Di tengah layar-layar yang terus bergerak menampilkan informasi dari seluruh dunia.
Saat itulah saya memahami bahwa meja kerja itu sebenarnya bukan sekadar meja.
Ia adalah sebuah filosofi kepemimpinan.
Bloomberg pernah mengatakan bahwa “tembok adalah musuh informasi”.
Semakin banyak pintu yang harus dilewati sebelum seseorang dapat berbicara kepada pemimpinnya, semakin lambat sebuah organisasi bergerak.
Karena itu ia menghapus seluruh kantor privat.
Semua orang duduk bersama.
Semua orang dapat langsung berbicara.
Semua orang dapat segera menyampaikan masalah.
Termasuk kepada pendirinya sendiri.
Filosofi itu bahkan ia bawa ketika menjadi Wali Kota New York.
Alih-alih menikmati kantor wali kota yang megah, Bloomberg mengubah City Hall menjadi ruang kerja terbuka yang dikenal sebagai The Bullpen.
Ia duduk bersama para wakil wali kota, kepala staf, penasihat, dan pimpinan biro.
Baginya, pemerintahan harus bekerja seperti ruang perdagangan Bloomberg: informasi bergerak cepat, masalah segera terlihat, dan keputusan tidak terhambat birokrasi.
Di tengah perbincangan yang hangat, saya menyaksikan satu percakapan yang hingga hari ini masih saya ingat.
Mike Bloomberg tiba-tiba menoleh kepada Presiden Prabowo.
“What’s your approval rating?”
Presiden Prabowo tersenyum.
“Around eighty percent.”
Mike mengangguk pelan.
Lalu ia mulai bercerita tentang pengalamannya sendiri.
“I started around sixty percent.”
“But at one point, because of many of the policies I introduced, my approval rating fell to around twenty percent.”
Ia mengatakannya tanpa sedikit pun nada penyesalan.
Kemudian ia tersenyum.
“Several years later, those policies proved to work. When I left office, my approval rating was back around sixty percent.”
Ruangan sejenak terasa hening.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi maknanya sangat dalam.
Saya merasa Mike Bloomberg sebenarnya tidak sedang berbicara tentang angka survei.
Ia sedang berbicara tentang harga yang harus dibayar untuk menciptakan sebuah legacy.
Bloomberg memahami bahwa pemimpin selalu dihadapkan pada dua pilihan.
Mengambil keputusan yang membuat semua orang senang hari ini.
Atau mengambil keputusan yang mungkin membuat banyak orang bertanya dan mungkin kecewa hari ini, tetapi membuat kehidupan mereka jauh lebih baik bertahun-tahun kemudian.
Baca Juga: Miliader AS Michael Bloomberg Bertemu Prabowo di Istana, Ini yang Dibahas
Dirgayuza Setiawan (Antara)
Ia memilih pilihan kedua.
Pada tahun 2003, ia melarang merokok di restoran dan bar di New York.
Hari itu New York seolah gempar.
Pemilik restoran mengatakan bisnis mereka akan mati.
Pemilik bar mengatakan pelanggan akan pergi.
Media mengejeknya sebagai pemimpin yang terlalu jauh mengatur kehidupan pribadi masyarakat.
Politisi menuduhnya arogan.
Banyak yang yakin kebijakan itu akan gagal.
Namun Bloomberg tetap berjalan.
Beberapa tahun kemudian, yang mati bukan restoran-restoran New York.
Yang mati justru anggapan bahwa larangan merokok di ruang publik tidak mungkin diterapkan.
Hari ini, kebijakan itu menjadi standar di banyak negara.
Dicibir lagi ketika mewajibkan restoran mencantumkan jumlah kalori pada menu.
Dikritik lagi ketika memperluas jalur sepeda.
Ditertawakan ketika mengubah sebagian Times Square menjadi kawasan pejalan kaki.
Orang mengatakan New York akan macet.
Bisnis akan hancur.
Wisatawan akan pergi.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Times Square berubah menjadi salah satu ruang publik paling terkenal di dunia. Jalur sepeda menjadi bagian normal dari kota modern. Informasi kalori di menu kini menjadi praktik umum.
Tentu tidak semua kebijakannya berhasil. Kebijakan ukuran minuman berpemanis dibatalkan pengadilan.
Namun dari semua keberhasilan maupun kegagalannya, ada satu pola yang tidak berubah.
Setiap kebijakan besar selalu melewati fase yang sama.
Pertama dianggap mustahil.
Lalu ditertawakan.
Kemudian ditentang.
Dan bila akhirnya berhasil, perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Bahkan kemudian ditiru oleh dunia.
Pola yang sama kini sedang dihadapi Wali Kota New York saat ini, Zohran Mamdani.
Salah satu gagasannya yang paling diperdebatkan adalah mendirikan toko kebutuhan pokok milik pemerintah kota agar masyarakat dapat memperoleh barang kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih murah.
Banyak yang langsung mengkritik.
Pemerintah dianggap tidak semestinya mengelola toko pangan.
Namun jika kita melihat tujuan akhirnya, gagasan tersebut memiliki semangat yang tidak jauh berbeda dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Indonesia: memperpendek rantai distribusi sehingga masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Apakah kebijakan itu akan berhasil?
Waktu yang akan menjawab.
Namun sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap gagasan besar selalu melewati ujian yang sama.
Saya pulang dari kantor Bloomberg hari itu bukan hanya membawa foto bersama.
Saya membawa satu pelajaran yang saya rasa sangat berharga.
Bahwa approval rating adalah potret sesaat. Legacy adalah penilaian sejarah.
Seorang pemimpin memang perlu mendengarkan rakyatnya.
Baca Juga: Pidato Prabowo di Sidang Umum PBB Raih Apresiasi Pemimpin Dunia
Tetapi ada saat-saat ketika ia juga harus berani mengambil keputusan yang belum tentu populer, selama keputusan itu benar dan akan membawa manfaat yang jauh lebih besar di masa depan.
Mungkin memang itulah harga sebuah legacy.
Bukan sekadar keberanian membuat kebijakan.
Melainkan keberanian tetap berdiri tegak ketika kebijakan itu dicemooh, ditertawakan, bahkan membuat popularitas merosot - sampai suatu hari waktu membuktikan bahwa keputusan itu memang benar.
Karena sering kali, kebijakan yang akhirnya mengubah dunia adalah kebijakan yang pada hari hari pertamanya justru paling banyak ditertawakan dan dicemooh.
Unexpected: Belajar Arti Approval Rating dari Eks Walikota NYC Mike Bloomberg