Bermula dari Sunda Kelapa, Menyongsong 5 Abad Jakarta: Kota yang Tak Pernah Lelah Menulis Sejarah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Jul 2026, 19:50
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Kolam Bundaran HI. (Antara) Kolam Bundaran HI. (Antara)

NTVNews.id , Jakarta - Setiap kota memiliki kisah. Namun hanya sedikit yang mampu bertahan melewati begitu banyak zaman, pergantian kekuasaan, perubahan nama, hingga tetap berdiri sebagai jantung sebuah bangsa. Jakarta adalah salah satunya.

Tahun 2027 mendatang menjadi penanda yang begitu istimewa. Kota yang selama ini menjadi pusat denyut Indonesia akan memasuki usia lima ratus tahun. 5 abad bukan hanya menghitung waktu. Ia adalah perjalanan panjang tentang keberanian, perjuangan, keberagaman, harapan, dan mimpi yang terus bertumbuh. Jakarta tak pernah berhenti menulis sejarah.

Sunda Kelapa, Tempat Segalanya Bermula

Bundaran HI <b>(ntvnews.id / Bagas)</b> Bundaran HI (ntvnews.id / Bagas)

Sebelum gedung-gedung mendetarkan langit yang menghiasi pemandangan kota, sebelum jalan-jalan protokol dipenuhi kendaraan, Jakarta hanyalah sebuah pelabuhan sederhana di muara Sungai Ciliwung. Pelabuhan itu bernama Sunda Kelapa.

Di momen perayaan HUT ke-499 Jakarta, Gubernur DKI Jakarta saat ini, Pramono Anung sempat mengenang dan menceritakan sekilas sejarah Jakarta. Kata dia, Sunda Kelapa adalah pelabuhan yang menjadi tuna Jakarta.

“Hampir 500 tahun perjalanan telah dilalui, dari denyut Pelabuhan Sunda Kelapa yang mempertemukan berbagai bangsa, hingga hari ini Jakarta berdiri sebagai pusat pemerintahan, perekonomian, kebudayaan, dan ruang interaksi bagi jutaan manusia,” kata dia.

Ya, sekitar lima abad silam, pelabuhan kecil tersebut menjadi salah satu pusat perdagangan terpenting Kerajaan Sunda. Kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia datang membawa rempah-rempah, kain sutra, keramik, hingga cerita dari negeri-negeri yang jauh.

Jayakarta: Kota Kemenangan yang Mengubah Arah Nusantara

Pemandangan kota Jakarta. <b>(Dok.Antara)</b> Pemandangan kota Jakarta. (Dok.Antara)

Dalam jurnal yang ditulis Rais Rozali berjudul Menuju Daerah Khusus Jakarta Perspektif Sejarah, Hukum, dan Pemerintahan , yang dimuat di portal resmi Provinsi DKI Jakarta, menyebutkan bahwa tanggal 22 Juni 1527 menjadi salah satu hari paling penting dalam perjalanan kota ini.

Pangeran Fatahillah memimpin penyerangan Sunda Kelapa yang saat itu menjadi pelabuhan menuju pelabuhan penting bagi Kerajaan Sunda sekaligus mitra perdagangan Portugis.

Kemenangan tersebut bukan hanya kemenangan militer. Ia adalah simbol lahirnya harapan baru. Nama Sunda Kelapa kemudian diganti menjadi Jayakarta. Sejak saat itulah tanggal 22 Juni dikenang sebagai Hari Jadi Kota Jakarta.

Perjalanan sejarah kembali berubah ketika VOC Belanda datang pada awal abad ke-17. Jayakarta direbut dan kemudian diubah namanya menjadi Batavia, nama yang diambil dari leluhur bangsa Belanda, Batavieren.

Belanda membangun kanal-kanal yang menyerupai kota-kota di Eropa demi mengatasi banjir. Gedung pemerintahan, benteng, pusat perdagangan, hingga kawasan organisasi mulai berkembang. Batavia tumbuh menjadi pusat administrasi sekaligus jantung perdagangan kolonial di Hindia Belanda.

Jakarta, Nama yang Menjadi Simbol Bangsa

Kota Jakarta <b>(ntvnews.id/Bagas)</b> Kota Jakarta (ntvnews.id/Bagas)

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, nama Batavia resmi ditinggalkan. Kota ini berubah menjadi Jakarta Tokubetsu Shi. Nama Jakarta kemudian terus digunakan hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Sejak saat itu, Jakarta menjadi pusat politik, pemerintahan, sekaligus tempat lahirnya berbagai keputusan penting yang menentukan arah perjalanan bangsa. Pada tahun 1964, Jakarta secara resmi ditetapkan sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Dari permukaan wajah kota berubah begitu cepat. Gedung-gedung pemerintahan berdiri megah. Jalan-jalan utama dibangun. Kawasan bisnis berkembang. Kedutaan besar dari berbagai negara hadir. Jakarta menjelma menjadi etalase Indonesia di mata dunia.

Para Nahkoda yang Mengantar Jakarta Menuju Lima Abad

Ahok, Anies Baswedan hingga Pramono Anung Kumpul di Balai Kota <b>(NTVNews.id/ Adiansyah)</b> Ahok, Anies Baswedan hingga Pramono Anung Kumpul di Balai Kota (NTVNews.id/ Adiansyah)

Tidak ada kota besar yang tumbuh tanpa pemimpin yang meninggalkan jejak. Dari masa ke masa, Jakarta dipimpin oleh tokoh-tokoh yang menghadirkan warna tersendiri dalam pembangunan kota.

Mulai dari Soemarno Sosroatmodjo, Henk Ngantung, Ali Sadikin, Tjokropranolo, R. Soeprapto, Wiyogo Atmodarminto, Surjadi Soedirdja, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Djarot Saiful Hidayat, Anies Baswedan, hingga kini Pramono Anung.

Masing-masing datang dengan tantangan zamannya. Masing-masing meninggalkan cerita yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Jakarta.

Jakarta Hari Ini: Kota Global yang Tetap Menjaga Akarnya

Pramono Anung <b>(NTVNews.id/Adiansyah)</b> Pramono Anung (NTVNews.id/Adiansyah)

Kini Jakarta adalah salah satu kota metropolitan terbesar di dunia. Ribuan kendaraan bergerak setiap menit. Kereta, MRT, LRT, Transjakarta, hingga transportasi modern lainnya menjadi nadi mobilitas jutaan orang setiap harinya.

Di balik modernitas itu, Jakarta tetap menyimpan denyut sejarah. Kota Tua masih berdiri anggun. Pelabuhan Sunda Kelapa tetap menjadi saksi perjalanan panjang.

Kampung-kampung Betawi masih mempertahankan tradisi. Masjid, gereja, vihara, dan pura berdampingan sebagai simbol keberagaman. Jakarta adalah kota yang mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak masa lalu. Justru sejarah menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh.

Di bawah kepemimpinan Gubernur DKI saat ini, Pramono Anung dan Wakil Rano Karno, Jakarta terus dipol/berbenah supaya mampu bersaing dengan kota-kota top dunia.

Transportasi umum terus beredar, salah satunya; Transjabodetabek yang menghubungkan daerah penyangga, pendidikan, kesehatan, ruang terbuka hijau diperbanyak, hingga warisan budaya yang dijaga.

Selain itu, Pramono juga menargetkan agar masyarakat naik transportasi umum meningkat setiap tahunnya dengan angka lima sampai sepuluh persen.

Maka saya menginginkan dalam waktu setiap tahun kalau bisa naik 5-10 persen orang yang menggunakan transportasi umum yang terus-menerus, bukan yang parsial itu sudah sangat baik sekali, kata Pramono.

Apalagi Jakarta menempati posisi 17 dengan transportasi terbaik dunia, dan di ASEAN hanya kalah dengan negara tetangga yakni Singapura.

"Ketika Time Out sebuah lembaga yang kredibel melakukan survei 18 ribu lebih di 50 negara mengenai transportasi umum. Jakarta sekarang nomor 17 dan di ASEAN Jakarta hanya kalah dengan Singapura," kata Pramono di Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa, 9 September 2025.

Menyongsong 5 Abad Jakarta

Pramono Anung <b>(Pemprov DKI)</b> Pramono Anung (Pemprov DKI)

Usia 5 abad bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi titik awal bagi Jakarta untuk melangkah menuju babak baru menjadi kota global yang lebih manusiawi, inklusif, berkelanjutan, dan berbudaya.

Pramono Anung mengungkapkan sejumlah prioritas program yang tengah dipersiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menyambut peringatan 500 tahun atau 5 abad Jakarta pada tahun 2027.

Fokus utama pembangunan diarahkan pada perbaikan konektivitas transportasi, penyediaan udara bersih, hingga penataan ruang publik demi mewujudkan kota yang semakin nyaman bagi masyarakat.

"Yang paling utama kalau ditanya apa yang dipersiapkan untuk Jakarta itu membuat orang menjadi hidupnya lebih nyaman, lebih mudah, tersambung, terhubung. Jadi konektivitas menjadi hal yang penting. Penyediaan udara bersih kemarin kita juga ada acara Water Hero, itu juga penting," katanya di malam puncak ke-499 Jakarta di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.

Dari sebuah pelabuhan kecil bernama Sunda Kelapa, Jakarta telah menjelma menjadi kota yang dikenal dunia. Ia pernah menjadi Jayakarta, Batavia, Djakarta, hingga kini tetap tegak sebagai Jakarta.

Dan 22 Juni 2027, Jakarta bukan hanya merayakan ulang tahun. Jakarta sedang merayakan perjalanan sebuah peradaban, perjalanan yang dimulai dari Sunda Kelapa dan akan terus berlayar menuju abad-abad berikutnya.

TERKINI

AS Kerahkan Jet Tempur Siluman ke Timur Tengah

Luar Negeri Senin, 20 Jul 2026 | 08:05 WIB

Israel Lakukan Penyusupan di Wilayah Suriah

Luar Negeri Senin, 20 Jul 2026 | 06:10 WIB

Trump Disoraki Penonton saat Hadiri Final Piala Dunia 2026

Luar Negeri Senin, 20 Jul 2026 | 05:49 WIB

Pria Tewas Dihantam Kereta di Kebayoran Lama

Metro Senin, 20 Jul 2026 | 04:40 WIB

Kebakaran Hantam Bangunan Rumah di Cilandak

Metro Senin, 20 Jul 2026 | 04:10 WIB

Wasit PSSI Kabupaten Sukabumi Tewas Tertabrak

Metro Senin, 20 Jul 2026 | 04:03 WIB

AJI Ingatkan Hotman Paris untuk Hormati Kerja Jurnalis

Nasional Minggu, 19 Jul 2026 | 22:02 WIB
Load More
x|close