Ntvnews.id, Beijing - Uji coba rudal yang dilakukan Angkatan Laut China di kawasan Pasifik Selatan pada Senin, 6 Juli 2026 memicu kekhawatiran sejumlah negara di kawasan. Sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS), termasuk Australia, Jepang, dan Selandia Baru, menilai langkah Beijing berpotensi mengganggu stabilitas keamanan regional.
Media pemerintah China melaporkan sebuah kapal selam bertenaga nuklir meluncurkan rudal yang membawa hulu ledak tiruan ke wilayah perairan internasional.
Dilansir dari DW, Kamis, 9 Juli 2026, menanggapi uji coba tersebut, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut tindakan China berisiko mengganggu keamanan kawasan. Jepang juga mendesak Beijing untuk mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut.
Sementara itu, Selandia Baru menegaskan tidak menginginkan kawasan Pasifik Selatan dijadikan lokasi pengujian rudal oleh China.
"Kami sangat prihatin dengan uji coba senjata yang mampu membawa hulu ledak nuklir yang dilakukan Cina di Pasifik Selatan," kata Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters di Wellington.
Pasifik Selatan memiliki sejarah panjang sebagai lokasi aktivitas militer. Selama Perang Dingin, Amerika Serikat melakukan berbagai uji coba senjata nuklir di sekitar Atol Bikini yang kini menjadi bagian dari Kepulauan Marshall. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Washington juga menjadi aktor utama dalam sistem keamanan kawasan tersebut.
Diduga Uji Rudal Balistik Antarbenua Julang-3
Meski pemerintah China belum mengungkap rincian resmi mengenai uji coba tersebut, sejumlah analis militer di China meyakini rudal yang digunakan merupakan rudal balistik antarbenua berbasis kapal selam Julang-3 (JL-3).
"Rudal itu adalah rudal balistik antarbenua yang diluncurkan dari kapal selam dengan nomor seri Julang (JL)-3," tulis Letnan Kolonel Zhang Junshe, peneliti dari Institut Riset Akademik Militer Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Cina.
Baca Juga: Prabowo-Modi Saksikan Penandatanganan Kontrak Rudal BrahMos, Kerja Sama Pertahanan RI-India Menguat
Julang-3 atau "Gelombang Raksasa-3" masih dalam tahap pengembangan dan diperkirakan memiliki jangkauan hingga sekitar 12.000 kilometer. Rudal tersebut juga disebut mampu membawa beberapa hulu ledak nuklir sekaligus. Hingga kini, tiga uji coba yang dinilai berhasil dilaporkan berlangsung sepanjang 2018 hingga 2019.
"Target rudal ini bukan pasukan tempur yang berada di garis depan, melainkan sasaran strategis seperti pusat komando, pangkalan militer, atau infrastruktur energi," tulis Zhang dalam blognya.
Rudal tersebut diyakini diluncurkan dari kapal selam nuklir Tipe 094 Jin yang memiliki panjang sekitar 135 meter dan diawaki sekitar 120 personel. Kapal selam itu mampu beroperasi di bawah laut selama sedikitnya 70 hari. Saat ini, Angkatan Laut China diketahui mengoperasikan enam kapal selam kelas tersebut.
Meski demikian, Zhang tidak menutup kemungkinan rudal diluncurkan dari kapal selam versi modifikasi.
Berdasarkan data Nuclear Threat Initiative (NTI), China juga mengoperasikan sekitar 59 kapal selam serang bertenaga nuklir selain armada kapal selam kelas Jin.
China Sebut Rudal sebagai Alat Penangkal Nuklir
Bendera China (Istimewa)
Menurut Zhang, pengembangan rudal tersebut ditujukan sebagai kemampuan penangkal serangan nuklir.
"Bahkan jika seluruh sistem persenjataan militer lainnya dilumpuhkan, kapal selam Cina tetap memiliki kemampuan penuh untuk melancarkan serangan balasan nuklir," tulisnya.
Pada September 2024, China juga pernah meluncurkan rudal balistik antarbenua berhulu ledak tiruan dari daratan China menuju Pasifik Selatan. Rudal itu dilaporkan jatuh di wilayah yang telah ditentukan di Polinesia Prancis dan menjadi uji coba rudal jarak jauh pertama Beijing yang melintasi perairan internasional dalam lebih dari empat dekade.
Seperti pada peluncuran sebelumnya, pemerintah China menegaskan negara-negara tetangga telah menerima pemberitahuan sebelum latihan dilakukan dan menekankan uji coba tersebut tidak ditujukan kepada negara tertentu.
Namun, Beijing juga terus memperkuat pengaruhnya di kawasan Pasifik sebagai bagian dari strategi menghadapi dominasi militer Amerika Serikat beserta sekutunya di sekitar wilayah China.
Partai Komunis China (CCP) berupaya memastikan negaranya memiliki kemampuan memberikan respons terhadap setiap ancaman militer, meski tetap mempertahankan kebijakan tidak akan menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu.
"Cina saat ini secara agresif menantang arsitektur keamanan regional yang dipimpin Amerika Serikat di berbagai tingkatan," tulis Felix Heiduk, Kepala Kelompok Riset Asia di lembaga pemikir Jerman, Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP) yang berbasis di Berlin, pada tahun 2024.
Kekhawatiran Kawasan Meningkat
Modernisasi militer China dinilai terus memperbesar kekhawatiran negara-negara di kawasan Pasifik. Strategi Beijing mencakup penguatan kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), perluasan kerja sama keamanan bilateral, hingga peningkatan aktivitas militer di Laut China Selatan.
Dalam studi yang diterbitkan Lowy Institute pada Juni 2026, Sam Roggeveen dan David Vallance menilai kemampuan rudal China berpotensi mengancam Australia apabila terjadi konflik berskala besar.
"Pasukan Rudal PLA merupakan sarana paling efektif yang dimiliki Cina untuk melancarkan serangan jarak jauh terhadap Australia," tulis Sam Roggeveen dan David Vallance dari lembaga pemikir Australia Lowy Institute dalam sebuah studi Juni 2026. "Jika terjadi konflik regional besar, pangkalan-pangkalan di Australia utara akan menjadi sasaran PLA."
Sebelumnya, para peneliti Australia belum menemukan bukti bahwa rudal berbasis daratan China mampu menjangkau wilayah utama Australia. Namun, peluncuran rudal dari kapal selam di Pasifik Selatan dinilai telah mengubah perhitungan strategis tersebut.
Uji coba rudal itu juga dipandang sebagai sinyal bagi NATO. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyampaikan bahwa perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap peningkatan kemampuan militer China.
"Ini adalah bukti lebih lanjut bahwa kita tidak boleh bersikap naif... dan memang kita tidak naif," kata Rutte.
Ilustrasi - Uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasongpho-17 milik Korea Utara, yang disiarkan kantor berita Korea Utara KNA, Jumat (25/3/2022). ANTARA/Korean Central News Agency/Handout via Xinhua/tm/am. (Antara)