Kapal Singapura Ditembak Iran di Selat Hormuz, PBB Tunda Evakuasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Jun 2026, 11:45
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. /ANTARA/Xinhua/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Sebuah kapal kontainer berbendera Singapura dilaporkan menjadi sasaran serangan saat melintasi Selat Hormuz, memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut. Insiden itu juga mendorong Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunda sementara rencana evakuasi ratusan kapal yang masih tertahan di Teluk.

Laporan mengenai insiden pertama kali diterima oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Berdasarkan informasi tersebut, kapal mengalami hantaman proyektil di sisi kanan lambung ketika berada sekitar 14 kilometer atau 7,5 mil laut di tenggara Pelabuhan Dahit, Oman.

Sumber keamanan maritim yang dikutip Reuters menyebut kapal tersebut diduga menjadi target serangan drone. Meski demikian, hingga kini belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Dalam laporan keamanan maritim, kapal yang menjadi sasaran diidentifikasi sebagai Ever Lovely, kapal kontainer berbendera Singapura. Kapal tersebut diperkirakan berlayar secara mandiri dan tidak termasuk dalam skema evakuasi yang tengah dijalankan IMO.

Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah Iran mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz agar tidak menggunakan rute tersebut tanpa izin dari Teheran.

Baca Juga: Jokowi Bertolak ke Lampung Kenakan Atribut PSI, Hadiri Rangkaian Rakorda hingga Kirab Budaya

Mengutip keterangan perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, Al Jazeera melaporkan bahwa Iran juga telah mengarahkan sejumlah kapal untuk mengubah rute pelayaran.

"Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memerintahkan dua kapal berbendera Panama untuk mengubah haluan pada Kamis pagi," jelas Al Jazeera menurut keterangan perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey.

Setelah kejadian tersebut, Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA), lembaga yang dibentuk Iran untuk mengelola Selat Hormuz, menyatakan bahwa kapal yang melintas di luar jalur yang telah ditetapkan tidak akan memperoleh jaminan keamanan.

Pernyataan itu mengindikasikan bahwa kapal yang memilih rute di luar ketentuan berpotensi menghadapi risiko serangan.

"Konsekuensi yang timbul akibat melewati jalur yang tidak sah menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal," tambah PGSA pada X.

Serangan terhadap kapal berbendera Singapura itu berdampak langsung pada operasi IMO yang sebelumnya berupaya mengevakuasi kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk.

Sejak Selasa (23/6), IMO telah menjalankan inisiatif untuk mengevakuasi sekitar 600 kapal beserta sekitar 11.000 pelaut yang tertahan akibat penutupan Selat Hormuz selama perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Baca Juga: Sinergi Kawal Lumbung Pangan Negeri, Kementerian Transmigrasi Siapkan Lahan, SDM, dan Pangan Alternatif

Dalam skema tersebut, kapal-kapal diarahkan keluar dari kawasan Teluk melalui dua jalur, yakni perairan Iran dan perairan Oman yang berada di bawah pengawasan Amerika Serikat.

Namun, sehari setelah laporan serangan terhadap Ever Lovely muncul, IMO memutuskan menangguhkan sementara pelaksanaan rencana tersebut.

"Saya telah memutuskan untuk menunda sementara pelaksanaan (rencana evakuasi) guna menegaskan kembali bahwa jaminan keselamatan yang diperlukan tetap berlaku untuk kapal-kapal dalam daftar evakuasi kami dan semua kapal di wilayah tersebut," kata Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez dalam sebuah pernyataan.

IMO menegaskan bahwa evakuasi kapal beserta muatan yang masih tertahan di Selat Hormuz akan kembali dilaksanakan setelah situasi keamanan dipastikan kondusif. Untuk sementara, organisasi tersebut masih melakukan verifikasi terhadap kondisi pelayaran guna memastikan seluruh proses evakuasi dapat berlangsung dengan aman.

x|close