Ntvnews.id, Kairo - Mesir mengungkap keterlibatannya setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang diharapkan menjadi landasan untuk mengakhiri konflik di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hasan Farag Elshemy kepada wartawan menjelang peringatan 74 tahun Revolusi Mesir 1952 di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
"Mesir telah aktif terlibat sejak hari pertama konflik. Kami berhasil membuka jalur komunikasi rahasia dengan pihak Iran untuk memfasilitasi pertukaran informasi penting," kata Elshemy di Westin Hotel, dikutip dari Al Jazeera, Jumat, 26 Juni 2026.
"Kami secara konsisten hadir di semua jalur negosiasi bersama mitra kami di Qatar dan Turki, serta dengan Pakistan, Amerika Serikat, dan Iran," tambahnya.
Menurut Elshemy, Mesir akan terus memainkan peran diplomatik secara aktif selama masa negosiasi 60 hari yang telah disepakati kedua pihak. Periode tersebut menjadi bagian dari isi MoU yang ditujukan untuk mencari jalan keluar permanen atas konflik yang terjadi.
Putaran perundingan terbaru pasca-penandatanganan MoU berlangsung di Burgenstock, Swiss, pekan lalu. Dari pertemuan tersebut, para pihak menyepakati sejumlah langkah, termasuk pembentukan komite kerja yang bertugas mengawasi implementasi nota kesepahaman serta membahas isu-isu terkait program nuklir.
Baca Juga: Israel Sebut Turki Kini Jadi Ancaman Lebih Besar daripada Iran
Dalam kesempatan itu, Elshemy juga menegaskan sikap Mesir terkait konflik antara AS dan Iran. Ia menyatakan bahwa sejak pecahnya perang, negaranya secara konsisten memberikan dukungan politik dan militer kepada negara-negara Teluk.
"Saya ingin menekankan poin penting: meskipun kami memahami logika strategis Iran, kami berdiri teguh di belakang saudara-saudara kami di negara-negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk)," ucap Elshemy.
"Keamanan nasional GCC merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keamanan nasional Mesir sendiri."
Konflik memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut memicu respons Teheran, termasuk penutupan Selat Hormuz, yang kemudian memperpanjang ketegangan selama berbulan-bulan dan meningkatkan gejolak di kawasan Timur Tengah.
Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)