Ntvnews.id, Tel Aviv Sebuah analisis yang diterbitkan surat kabar Israel, Maariv, menyebut bahwa Turki saat ini dinilai sebagai ancaman yang lebih besar dan lebih serius bagi Israel dibandingkan Iran. Penilaian tersebut didasarkan pada pesatnya perkembangan kemampuan militer dan industri pertahanan Turki dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam ulasannya Maariv menyoroti posisi Turki sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di dalam NATO setelah Amerika Serikat.
Dilansir dari Middle East Eye, Kamis, 25 Juni 2026, Analisis tersebut juga menyebut bahwa Turki telah mencapai tingkat kemandirian industri pertahanan sekitar 80 persen, menjadikannya salah satu negara dengan kemampuan produksi militer domestik yang terus berkembang.
Menurut laporan itu, kemajuan signifikan dalam produksi persenjataan dan pengembangan teknologi militer telah memperkuat posisi strategis Ankara di kawasan. Perkembangan tersebut dinilai membuat para pengambil kebijakan di Israel semakin mencermati pengaruh dan kapabilitas Turki yang terus meningkat, di samping ancaman keamanan regional yang selama ini menjadi perhatian utama.
Dalam analisisnya, Maariv menyoroti besarnya kekuatan darat Turki, termasuk kepemilikan sejumlah besar tank tempur. Salah satu yang menjadi perhatian adalah tank tempur utama "Altay" yang dikembangkan dan diproduksi secara domestik.
Baca Juga: 5 Negara Bakal Tersingkir di Piala Dunia 2026
Selain itu, Turki disebut telah berhasil membangun industri pertahanan modern yang mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan militernya sendiri. Negara tersebut juga mengembangkan sistem pertahanan udara berlapis yang banyak mengandalkan teknologi dalam negeri.
Namun, menurut Maariv, potensi ancaman terbesar bagi Israel dalam skenario konfrontasi justru berasal dari kekuatan laut Turki. Angkatan Laut Turki disebut memiliki 16 kapal selam, sejumlah fregat, serta kapal serbu amfibi yang memperkuat kemampuan operasionalnya.
Di sektor darat, militer Turki dinilai memiliki pengalaman tempur yang luas setelah bertahun-tahun menghadapi kelompok bersenjata dan menjalankan operasi militer di wilayah Suriah serta Irak. Pengalaman tersebut dianggap memberikan keunggulan dalam operasi di kawasan perkotaan yang padat penduduk maupun medan pegunungan yang kompleks.
Ilustrasi - Siluet tentara dengan latar belakang bendera Iran dan bendera Israel (Antara)
Analisis itu juga menyoroti dinamika hubungan Israel dengan Amerika Serikat. Menurut Maariv, terdapat indikasi menurunnya tingkat keselarasan antara Tel Aviv dan Washington dalam sejumlah isu keamanan.
Laporan tersebut menyebut Israel masih berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan pendekatan Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah kebutuhan keamanan di wilayah perbatasan utara Israel. Di tengah situasi tersebut, Turki dinilai muncul sebagai tantangan strategis baru yang berpotensi lebih berbahaya dibandingkan Iran.
Dengan kombinasi kekuatan militer yang terus berkembang, kemandirian industri pertahanan, serta pengaruh regional yang semakin besar, Turki kini dipandang oleh sebagian kalangan di Israel sebagai faktor keamanan yang perlu mendapat perhatian lebih besar dalam perhitungan strategis kawasan.
Turki (Istimewa)