Ntvnews.id, Taipei- Pemerintah Taiwan meluncurkan sebuah situs web khusus pada Minggu, 14 Juni 2026 yang ditujukan untuk menampung informasi intelijen dari warga China. Otoritas di Taipei menyebut platform tersebut sebagai saluran aman bagi masyarakat China yang dinilai semakin tidak puas terhadap sistem yang berlaku dan menginginkan perubahan.
Dilansir dari Reuters, Senin, 15 Juni 2026, Taiwan dan China telah lama terlibat dalam aktivitas saling memata-matai. Ketegangan hubungan kedua pihak juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Taiwan berulang kali melaporkan bertambahnya kasus spionase yang melibatkan warga China.
Dalam keterangan yang dipublikasikan di situs tersebut, National Security Bureau menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kondisi ekonomi China menghadapi tantangan yang semakin berat, sementara kontrol politik tetap diberlakukan secara ketat.
"Ditambah dengan makin banyaknya persoalan sosial dan kehidupan sehari-hari, kondisi ini memicu ketidakpuasan publik," demikian pernyataan biro tersebut dalam bahasa China dan Inggris.
"Akibatnya, makin banyak individu mendekati lembaga terkait di Taiwan untuk memberikan berbagai jenis informasi," biro tersebut menambahkan.
Baca Juga: Taiwan Kerahkan Kapal Pantau Operasi China di Perairan
Hingga kini, Taiwan Affairs Office belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait langkah yang diambil pemerintah Taiwan tersebut.
Saat pertama kali diakses, situs itu menampilkan video promosi berdurasi sekitar satu menit yang menurut Biro Keamanan Nasional Taiwan dibuat dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Video tersebut menampilkan sosok pegawai negeri di China yang menyaksikan rekan-rekannya diperiksa dan dicopot dari jabatan mereka.
"Ah, satu lagi orang dibawa pergi," ujar karakter pegawai negeri itu dengan aksen China utara, disertai teks berhuruf sederhana yang umum digunakan di China daratan.
"Para kawan lama itu entah mengapa menghilang satu per satu," ujar narator video tersebut kemudian.
Pada bagian akhir video, tokoh tersebut terlihat membeli telepon genggam baru dan mulai mengetik di perangkatnya sambil mengatakan, "Sekarang saatnya untuk berubah."
Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang bendera nasional Taiwan saat bendera AS berkibar di latar belakang selama demonstrasi untuk merayakan Hari Nasional Taiwan di Tsim Sha Tsui, Hong Kong, China (10/10/2019). (ANTARA/REUTERS/Athit Perawongmet (Antara)
Meski situs tersebut telah diblokir di China, banyak warga negara itu diketahui tetap dapat mengakses berbagai laman yang dibatasi melalui penggunaan layanan VPN, termasuk media sosial Barat dan mesin pencari asing.
Biro Keamanan Nasional Taiwan mengajak warga China, baik yang berada di dalam maupun luar negeri, untuk berani mengambil langkah perubahan dengan memberikan informasi yang mereka miliki.
Menurut Taiwan, langkah ini mengikuti praktik yang telah diterapkan sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.
Baca Juga: AS Tegaskan Kebijakan terhadap Taiwan Tidak Berubah Usai Pertemuan Trump-Xi
Melalui kanal tersebut, warga China disebut dapat menyampaikan informasi terkait intelijen guna memperluas dan memperkaya sumber informasi yang dimiliki Biro Keamanan Nasional Taiwan.
Sebelumnya, China juga pernah menerapkan kebijakan serupa. Pada 2024, Beijing membuka alamat surat elektronik khusus untuk menerima laporan mengenai dugaan tindakan yang dilakukan kelompok yang mereka sebut sebagai "separatis" Taiwan.
Pemerintah Taiwan selama ini menolak klaim kedaulatan yang diajukan Beijing terhadap pulau tersebut. Taipei menegaskan bahwa hanya masyarakat Taiwan yang berhak menentukan masa depan wilayah mereka sendiri.
China Taiwan (Istimewa)