Ntvnews.id, Taheran - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah tuduhan yang menyebut pihaknya berada di balik serangan rudal terhadap Bandara Internasional Kuwait di Kuwait City. Militer elite Iran itu justru menuding kerusakan yang terjadi disebabkan oleh rudal pencegat Patriot milik Amerika Serikat yang mengalami kegagalan fungsi.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, pada Rabu, 3 Juni 2026, setelah pemerintah Kuwait menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya. Insiden itu juga menyebabkan operasional bandara sempat dihentikan sementara.
Mohebbi menegaskan hasil penyelidikan yang dilakukan menunjukkan bahwa Angkatan Udara IRGC tidak pernah menargetkan terminal bandara Kuwait.
"Kerusakan terminal penumpang bandara Kuwait disebabkan oleh kesalahan pada sistem Patriot Amerika, yang jatuh di terminal setelah gagal mencegat rudal Iran," tambahnya, dilansir mdari Press TV, Jumat, 5 Juni 2026.
Sebelumnya, IRGC memang mengakui telah melancarkan serangan rudal dan drone yang menyasar berbagai fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Target yang disebut meliputi markas United States Fifth Fleet di Bahrain, pangkalan Angkatan Udara AS di Kuwait, serta sejumlah aset militer Amerika lainnya di kawasan tersebut.
Baca Juga: Serangan Iran ke Kuwait Tewaskan Satu Orang, Puluhan Warga Terluka
Menurut Iran, serangan itu merupakan respons atas aksi militer AS terhadap kapal tanker Iran di Teluk Oman serta serangan terhadap menara komunikasi di Pulau Qeshm.
Insiden tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian aksi saling balas antara Iran dan Amerika Serikat yang terus meningkatkan ketegangan di kawasan.
Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa Teheran akan mengerahkan seluruh kapasitas yang dimilikinya untuk menghadapi tindakan yang dianggap sebagai agresi terhadap negaranya.
Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh perahu cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO ISNA/Morteza Akhoundi (Antara)
"Tindakan negara mana pun yang mengizinkan pihak agresor untuk menggunakan wilayah darat, laut, atau udara atau fasilitas dan pangkalan yang terletak di wilayah mereka untuk melakukan atau mendukung agresi militer terhadap Iran, merupakan pelanggaran nyata terhadap aturan dasar hukum internasional dan prinsip bertetangga baik," kata kementerian tersebut.
Sebagai respons atas insiden di bandara, pemerintah Kuwait memanggil kuasa usaha Iran di Kuwait City, Hamed Ya'qoubi Far, untuk menerima nota protes resmi.
Selain melayangkan protes diplomatik, Kuwait juga menetapkan dua anggota misi diplomatik Iran sebagai persona non grata dan memerintahkan keduanya meninggalkan negara tersebut dalam waktu 24 jam. Langkah itu memperlihatkan meningkatnya ketegangan diplomatik antara kedua negara menyusul insiden yang terjadi di Bandara Internasional Kuwait.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)