Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran dilaporkan masih menelaah secara mendalam draf kesepakatan akhir yang diajukan Amerika Serikat dan hingga Rabi, 3 Juni 2026 belum menyampaikan respons resmi terkait proposal tersebut.
Kantor berita semi-resmi Mehr, mengutip sumber yang mengetahui jalannya pembahasan, menyebut bahwa Teheran masih melakukan kajian menyeluruh terhadap isi dokumen sebelum memutuskan sikap final dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Menurut sumber tersebut, Iran ingin memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai benar-benar memberikan keuntungan yang jelas dan dapat dirasakan secara langsung oleh negara tersebut.
Selain itu, sumber yang sama menyoroti pengalaman masa lalu terkait hubungan kedua negara. Riwayat pelanggaran terhadap sejumlah perjanjian sebelumnya membuat Iran bersikap sangat berhati-hati dalam menyikapi proposal terbaru dari Washington.
“Sejarah ketidakpatuhan AS dan ketidakpercayaan historis membuat Iran melihat isu ini dengan sangat ketat,” sebut laporan Mehr yang dikutip TRT World, Rabu, 3 Juni 2026.
Baca Juga: Nadiem Bantah Narasi “White Collar Crime”, Sebut Tak Ada Bukti Aliran Dana dalam Kasus Chromebook
Proses diplomasi ini berlangsung di tengah ketegangan yang masih membayangi kawasan Timur Tengah. Konflik meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Sebagai tanggapan atas operasi tersebut, Teheran melakukan serangan balasan yang menyasar Israel serta sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset dan fasilitas militer AS.
Dalam eskalasi konflik tersebut, Iran juga sempat menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global. Penutupan itu sempat memicu kekhawatiran pasar internasional terhadap stabilitas pasokan minyak dan gas dunia.
Upaya meredakan ketegangan kemudian dilakukan melalui jalur diplomasi. Gencatan senjata mulai diberlakukan pada 8 April berkat mediasi Pakistan. Meski demikian, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad hingga kini belum berhasil menghasilkan kesepakatan damai yang bersifat permanen.
Arsip - Kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz (21/7/2019). (ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa) (Antara)
Walaupun proses negosiasi masih berlangsung, berbagai pihak tetap berupaya mencari jalan keluar diplomatik guna mengakhiri konflik yang telah melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut.
Sejumlah laporan menyebut Iran mengajukan beberapa syarat untuk mengakhiri perang secara permanen. Salah satu tuntutan utama adalah penghentian seluruh pertempuran yang berlangsung di berbagai front konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk di Lebanon.
Baca Juga: Iran Tegaskan Siap Dukung Lebanon Hadapi Serangan Israel
Teheran menilai operasi militer Israel di Lebanon yang berlangsung sejak awal Maret tidak dapat dipisahkan dari dinamika konflik regional yang lebih luas. Karena itu, Iran memandang penyelesaian konflik harus dilakukan secara menyeluruh dalam satu paket kesepakatan yang mencakup seluruh titik ketegangan di kawasan.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan Iran akan menyampaikan keputusan resminya terkait draf kesepakatan yang diajukan Amerika Serikat. Namun, sikap hati-hati Teheran menunjukkan bahwa proses negosiasi masih menghadapi sejumlah tantangan sebelum tercapainya kesepakatan final.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)