Ntvnews.id, Bukares - Rumania bersama sejumlah negara anggota NATO melontarkan kecaman keras setelah sebuah drone yang diduga berasal dari Rusia menghantam sebuah gedung apartemen di wilayah timur Rumania pada Jumat, 29 Mei 2026. Insiden tersebut mengakibatkan dua orang mengalami luka-luka.
Dilansir dari Al Jazeera, Minggu, 31 Mei 2026, Kementerian Luar Negeri Rumania menyebut kejadian itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Menurut otoritas setempat, drone tersebut sempat terdeteksi radar saat memasuki wilayah udara Rumania sebelum akhirnya jatuh di atap sebuah bangunan apartemen di Kota Galati.
Menanggapi situasi tersebut, militer Rumania langsung mengerahkan dua jet tempur F-16 dan satu helikopter. Peringatan darurat juga disampaikan kepada warga sipil di kawasan terdampak.
Akibat jatuhnya drone tersebut, dua orang dilaporkan mengalami luka ringan. Selain itu, sejumlah warga terpaksa dievakuasi setelah kebakaran terjadi di lokasi kejadian.
Setelah insiden tersebut, pemerintah Rumania segera memanggil Duta Besar Rusia untuk menyampaikan protes resmi.
Menteri Luar Negeri Rumania, Oana Toiu, menegaskan pemerintahnya akan mengambil langkah diplomatik lebih lanjut terhadap Moskow.
"Kami akan secara resmi mengkomunikasikan konsekuensi yang akan ditimbulkan oleh kurangnya tanggung jawab dari Federasi Rusia ini terhadap hubungan diplomatik antara negara kita, serta langkah selanjutnya di tingkat Eropa," tulis Oana Toiu.
Baca Juga: Tentara Israel Tewas Akibat Serangan Drone Hizbullah
Presiden Rumania, Nicusor Dan, juga menyampaikan bahwa negaranya tidak akan mentoleransi dampak agresi Rusia di Ukraina yang meluas hingga membahayakan warga Rumania.
Menurut laporan Al Jazeera, insiden ini menjadi salah satu dari sejumlah kejadian serupa yang terjadi sejak perang di Ukraina berdampak ke wilayah negara-negara anggota NATO yang berbatasan atau berada di sekitar kawasan konflik.
Beberapa negara seperti Estonia, Lithuania, Latvia, dan Finlandia sebelumnya juga melaporkan pelanggaran wilayah udara dalam beberapa bulan terakhir.
Menteri Urusan Eropa Prancis, Benjamin Haddad, menilai insiden tersebut menunjukkan ancaman serius yang ditimbulkan Rusia terhadap stabilitas keamanan kawasan Eropa.
Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, menyampaikan kekhawatirannya terhadap tindakan Rusia.
"Terlepas dari apakah itu disengaja atau akibat dari ketidakmampuan, Rusia tetap berbahaya dan kita harus membela diri terhadapnya," kata Sikorski.
NNA melaporkan terjadinya (Antara)
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan insiden tersebut menjadi bukti bahwa "perang agresi Rusia telah melampaui batas".
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengingatkan bahwa eskalasi serangan berpotensi berkembang menjadi situasi yang tidak terkendali dengan dampak yang sulit diprediksi.
Di sisi lain, Rusia membantah tuduhan yang menyebut drone tersebut berasal dari negaranya. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan asal-usul drone sebelum penyelidikan selesai dilakukan.
Baca Juga: Kelalaian Standar K3 Jadi Hal yang Memberatkan Vonis Dirut Terra Drone dalam Kasus Kebakaran Gedung
"Tidak ada yang dapat mengatakan apa asal usul drone ini atau itu, sampai pemeriksaan telah dilakukan," kata Putin.
Ia juga menyebut bahwa drone milik Ukraina sebelumnya pernah melintasi wilayah udara sejumlah negara, termasuk Finlandia, Polandia, dan negara-negara Baltik.
Insiden ini kembali menambah ketegangan antara Rusia dan negara-negara anggota NATO di tengah konflik yang masih berlangsung di Ukraina, sekaligus memunculkan kekhawatiran akan meluasnya dampak perang ke kawasan Eropa lainnya.
Ilustrasi - Drone atau pesawat nirawak. ANTARA/Xinhua/pri (Antara)