Ntvnews.id, Jakarta - Para menteri luar negeri ASEAN menegaskan pentingnya menjaga keselamatan dan keamanan maritim, termasuk menjamin kebebasan navigasi di selat-selat yang digunakan untuk pelayaran internasional sesuai Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) 1982.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Pernyataan Para Menteri Luar Negeri ASEAN tentang Situasi yang Berkembang di Timur Tengah yang dirilis pada Selasa, 21 Juli 2026.
“Kami menyatakan keprihatinan mendalam atas setiap tindakan diskriminatif atau sepihak yang dapat menghambat atau merintangi kapal yang melewati Selat Hormuz, atau selat mana pun yang digunakan untuk navigasi internasional, yang tidak sesuai dengan hukum internasional, sebagaimana tercermin dalam UNCLOS 1982,” mengutip pernyataan itu.
Dalam pernyataan tersebut, ASEAN juga menyerukan pemulihan jalur pelayaran dan penerbangan yang aman, bebas hambatan, serta berkelanjutan di Selat Hormuz sesuai ketentuan UNCLOS 1982.
Baca Juga: ASEAN Serukan Persatuan Hadapi Ketidakpastian Geopolitik di Pertemuan Menlu ke-59
Selain itu, seluruh pihak diminta menjamin keselamatan pelaut dan kapal sesuai Konvensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut (SOLAS).
“ASEAN juga mengakui komitmen kolektif Organisasi Maritim Internasional untuk memastikan pelindungan dan peningkatan keselamatan dan kesejahteraan pelaut di kawasan ini,” menurut pernyataan itu.
ASEAN turut mendesak seluruh pihak untuk menahan diri, menghindari eskalasi konflik, serta mengedepankan dialog dan diplomasi demi menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan. Organisasi itu juga menyerukan penghentian segera seluruh aksi permusuhan di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa setiap negara memiliki kewajiban menyelesaikan sengketa secara damai, menghormati kedaulatan dan integritas teritorial, melindungi warga sipil beserta infrastruktur sipil, serta menjamin keselamatan personel kemanusiaan dan personel Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sesuai hukum internasional, Piagam PBB, dan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Baca Juga: Indonesia Siap Jadi Tuan Rumah Dialog ASEAN untuk Dukung Penyelesaian Krisis Myanmar
Pada 2026, Filipina memegang keketuaan ASEAN dengan mengusung tema "Navigating Our Future, Together". Dalam kapasitas tersebut, Filipina menjadi tuan rumah Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers' Meeting/AMM) ke-59 yang berlangsung di Manila pada Selasa, 21 Juli 2026.
Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga Jumat, 24 Juli 2026. Agenda itu juga mencakup pertemuan bersama mitra dialog ASEAN, ASEAN Plus Three, KTT Asia Timur, serta Forum Regional ASEAN yang menghadirkan Amerika Serikat, China, Rusia, Jepang, India, dan Uni Eropa untuk membahas tantangan keamanan regional maupun global.
Sebelumnya, pada Rabu, 18 Juni 2026, Washington dan Teheran menandatangani memorandum yang mengatur pengakhiran konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Namun, sejak Selasa, 8 Juli 2026, pasukan Amerika Serikat dilaporkan telah melancarkan beberapa serangan terhadap Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat mengklaim serangan tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, pasukan Iran melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Para Menteri Luar Negeri negara-negara ASEAN berfoto bersama dalam upacara pembukaan Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 di Pasay City, Metro Manila, Filipina, pada 21 Juli 2026. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung selama sepekan hingga 2 (Antara)