Ntvnews.id, Moskow - Pemerintah Spanyol menegaskan tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz yang berpotensi memperburuk ketegangan dan memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, saat menanggapi kemungkinan keterlibatan negaranya dalam misi NATO untuk mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut apabila upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kegagalan.
"Kami tidak akan mengambil bagian dalam tindakan apa pun yang dapat berarti eskalasi. Dan yang terpenting, kami pikir tidak ada solusi militer untuk krisis ini," kata Albares dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.
Menurut Albares, pendekatan diplomatik tetap menjadi jalan terbaik untuk meredakan ketegangan yang terjadi. Ia menekankan bahwa penyelesaian konflik melalui jalur militer hanya berisiko memperluas dampak krisis dan meningkatkan instabilitas regional.
Pernyataan itu muncul ketika muncul wacana pembentukan misi keamanan maritim oleh negara-negara anggota NATO untuk menjaga stabilitas di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Baca Juga: Iran Balas Serangan AS, Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas
Pada Mei lalu, para menteri pertahanan dari sekitar 40 negara yang tergabung dalam koalisi pembukaan blokade Selat Hormuz menggelar pertemuan yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis. Dalam pernyataan bersama yang dihasilkan, disebutkan bahwa misi tersebut dirancang untuk mendukung dan melengkapi proses diplomatik dalam upaya penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota, Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Rangkaian aksi tersebut semakin memperdalam kekhawatiran internasional terhadap kemungkinan meluasnya konflik regional.
Baca Juga: Iran Janjikan Kemudahan Akses bagi Kapal Jepang yang Lintasi Selat Hormuz
Sementara itu, pada April lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan kemungkinan menarik Amerika Serikat dari NATO. Dalam wawancaranya dengan surat kabar The Telegraph, Trump mengkritik sikap aliansi tersebut yang tidak memberikan dukungan dalam konflik dengan Iran dan menyebut NATO sebagai "macan kertas".
Pernyataan Trump dan sikap Spanyol yang menolak keterlibatan militer menunjukkan masih adanya perbedaan pandangan di antara negara-negara Barat mengenai pendekatan terbaik dalam menghadapi ketegangan yang terus berkembang di Timur Tengah.
(Sumber: Antara)
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares. ANTARA/Anadolu/py (Antara)