Netanyahu Kecewa Trump Dinilai Melunak ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Mei 2026, 09:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu/py/pri. Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu/py/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan merasa frustrasi terhadap sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai semakin lunak terhadap Iran dalam upaya mencapai kesepakatan baru dengan Teheran.

Sejumlah sumber di Israel menyebut Netanyahu merasa tersisih dari proses perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kepentingan keamanan Israel tidak lagi menjadi prioritas utama dalam negosiasi yang sedang berlangsung.

Dilansir dari CNN, Minggu, 31 Mei 2026, sejak tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran pada April lalu, Netanyahu berulang kali meminta Trump untuk melanjutkan tekanan militer terhadap Teheran. Ia meyakini operasi yang berkelanjutan dapat melemahkan bahkan menjatuhkan rezim Iran. Namun, Gedung Putih justru memilih pendekatan diplomatik yang lebih terbuka terhadap Iran.

Sumber-sumber Israel menyebut Netanyahu khawatir kesepakatan yang tengah dirundingkan akan mengabaikan isu-isu yang selama ini menjadi perhatian utama Israel, terutama terkait program pengayaan uranium Iran, pengembangan rudal, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

"Ada kekhawatiran nyata bahwa Trump akan puas dengan kesepakatan yang buruk," kata salah satu pejabat Israel.

"Jika kesepakatan yang tercapai meliputi kepastian bahwa uranium Iran dihilangkan, kami bisa terima. Tapi jika itu cuma pernyataan niat, Iran bisa memainkan Amerika dan pada akhirnya tidak akan menyetop program uranium mereka," lanjutnya.

Sementara itu, Iran berulang kali menegaskan bahwa cadangan uranium yang dimilikinya tidak termasuk dalam poin yang dibahas dalam perundingan dengan Washington.

Trump sebelumnya pernah menegaskan bahwa program pengayaan uranium Iran harus dihentikan sepenuhnya dan material yang ada diserahkan kepada Amerika Serikat. Namun belakangan, ia memberikan sinyal yang dianggap lebih fleksibel terkait isu tersebut.

Perubahan sikap itu memicu kekecewaan di kalangan pejabat Israel. Salah seorang pejabat bahkan menyebut kebijakan Trump sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sekutu dekatnya tersebut.

"Jadi begini rasanya dikhianati oleh Trump," kata pejabat yang ingin dirahasiakan identitasnya.

Baca Juga: Sidang Korupsi Benjamin Netanyahu Kembali Batal Mendadak Jelang 1 Jam Sebelum Mulai

Pejabat Israel lainnya memperingatkan bahwa pelonggaran kebijakan terhadap Iran justru berpotensi memperkuat posisi pemerintah Teheran.

"Apabila blokade [AS terhadap pelabuhan Iran] dicabut, apalagi jika dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan, itu akan sangat buruk dan akan secara signifikan memperkuat rezim [Iran]," ucapnya.

"Alih-alih membawa Iran ke titik di mana mereka tidak bisa menggaji tentara dan polisi, kesepakatan tersebut justru bakal menyuntikkan Iran dengan uang dan mendanai pemulihan mereka," lanjut pejabat tersebut.

Salah satu kekhawatiran utama Israel berkaitan dengan peran Hizbullah, sekutu utama Iran di Lebanon selatan. Selama bertahun-tahun, Iran diketahui menjadi pemasok utama persenjataan bagi kelompok tersebut yang kerap terlibat konflik dengan Israel.

Dalam proses negosiasi saat ini, Iran dilaporkan mendorong penerapan gencatan senjata di Lebanon. Pada saat yang sama, Amerika Serikat disebut berusaha menahan Israel agar tidak memperluas operasi militernya di wilayah tersebut.

Kondisi itu memicu kritik dari sejumlah politisi sayap kanan sekutu Netanyahu yang mendesak pemerintah Israel untuk mengambil sikap lebih tegas terhadap Washington. Namun, menurut berbagai sumber, ruang gerak Netanyahu dalam menghadapi Trump sangat terbatas.

Selain faktor hubungan bilateral, situasi ini juga dipengaruhi pertimbangan politik domestik Israel menjelang pemilu. Selama ini, kedekatan Netanyahu dengan Trump menjadi salah satu modal politik penting yang sering ia tonjolkan kepada publik.

Karena tidak mampu mengubah sikap Trump secara langsung, Netanyahu disebut mengalihkan tekanannya kepada tim perunding Amerika Serikat, termasuk Jared Kushner dan Steve Witkoff. Melalui media yang dianggap dekat dengannya, kedua tokoh tersebut dikritik karena dinilai kurang memperhatikan aspek keamanan Israel.

Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu. <b>(ANTARA)</b> Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu. (ANTARA)

Tokoh media yang dekat dengan Netanyahu, Yaakov Bardugo, bahkan melontarkan kritik terbuka terhadap tim negosiasi AS.

"Kushner, Witkoff, dan Vance memilih dunia ekonomi dibandingkan dunia eksistensial," kata Yaakov Bardugo, pembawa acara televisi yang dekat dengan Netanyahu, di Channel 14.

"Dengan segala hormat terhadap kesepakatan yang mereka buat, kamilah yang tinggal di sini," tandasnya.

Sementara itu, seorang sumber yang mengetahui komunikasi antara AS dan Israel menyebut Trump saat ini ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kendali penuh atas kebijakan Amerika Serikat dan tidak akan membiarkan Netanyahu memengaruhi keputusan strategis Washington.

"bisa menyebabkan perubahan rezim di Amerika Serikat", kata sumber tersebut saat menjelaskan kekhawatiran Trump terhadap tindakan yang dianggap terlalu agresif dari Netanyahu.

Baca Juga: Gol Benjamin Sesko Selamatkan MU dari Kekalahan dari West Ham

Sumber yang sama menambahkan:

"Trump melihat bahwa narasi 'Bibi mengibas-ngibaskan anjingnya' ini merugikannya. Jadi dia menunjukkan bahwa dirinyalah yang mengambil keputusan," kata sumber tersebut.

Pandangan itu sejalan dengan pernyataan Trump pekan lalu mengenai hubungan dirinya dengan Netanyahu.

"Bibi orang baik. Dia akan melakukan apa yang saya katakan kepadanya," kata Trump saat itu.

Ketegangan pandangan antara Washington dan Tel Aviv terkait Iran kini menjadi salah satu dinamika penting yang dapat memengaruhi arah kebijakan keamanan di Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan.

x|close