Minta Antisipasi Cuaca Ekstrem Diperkuat, DPR: Jangan Baru Gerak Usai Ada Korban!

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Mei 2026, 08:19
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi longsor. Ilustrasi longsor. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta pemerintah memperkuat upaya antisipasi cuaca ekstrem. Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin, tak ingin pihak terkait baru bekerja usai ada korban jiwa.

Azis mengingatkan lembaga penanggulangan bencana nasional untuk memperkuat langkah antisipasi dalam menghadapi cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Menurutnya, pola penanganan tidak boleh lagi sekadar berfokus pada respons setelah peristiwa terjadi.

Sistem penanggulangan yang aktif dan terukur harus dibangun sejak dini guna meminimalkan dampak buruk bagi masyarakat.

"Penanganan bencana tidak bisa lagi bersifat reaktif. Negara jangan baru bergerak setelah korban berjatuhan atau kerusakan meluas. Antisipasi harus diperkuat sejak awal ketika potensi cuaca ekstrem mulai terdeteksi," ujar Azis, Senin, 25 Mei 2026.

Ia menilai, intensitas bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang berulang menunjukkan bahwa ancaman ini tidak lagi bersifat musiman.

Atas itu, pemerintah pusat maupun daerah dituntut memiliki pola kerja yang lebih cepat, adaptif, dan siaga.

Ia menekankan empat poin krusial yang harus segera dibenahi. Antara lain peringatan dini hingga level desa. Di mana monitoring cuaca harian harus dilakukan agresif berkolaborasi dengan BMKG. Informasi potensi cuaca buruk wajib diterjemahkan menjadi langkah kesiapan konkret di lapangan, bukan sekadar peringatan administratif.

Lalu, aparat daerah yang sigap. Ia mengatakan, informasi evakuasi harus cepat diterima masyarakat dan diikuti kesiapan personel serta jalur penyelamatan di wilayah rawan.

Kemudian, penyediaan Logistik di zona rawan. Menurutnya, distribusi bantuan siap pakai harus disiagakan di titik risiko tinggi sebelum bencana melanda, demi menghindari keterlambatan pasokan yang sering terjadi.

Keempat, edukasi dan simulasi rutin. Ia menyebut, mitigasi harus menjadi budaya. Masyarakat perlu dibiasakan memahami langkah penyelamatan diri secara berkala, bukan hanya saat situasi darurat sudah besar.

"Situasi sekarang menunjukkan bahwa ancaman bencana bisa terjadi kapan saja dan di banyak wilayah secara bersamaan. Logistik jangan baru digerakkan ketika dampak sudah meluas. Daerah rawan harus memiliki kesiapan stok dan akses distribusi yang jelas agar penanganan darurat bisa lebih cepat," tandas Azis.

x|close