Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Indonesia kembali menyerukan pentingnya upaya menahan diri setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz. Indonesia menilai langkah deeskalasi dan penyelesaian melalui jalur diplomasi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas kawasan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang mengatakan Indonesia meminta seluruh pihak menghindari tindakan yang berpotensi memperburuk situasi keamanan.
“Indonesia menekankan agar semua pihak dapat terus menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi,” ucap Yvonne dalam taklimat media di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
Menurutnya, Indonesia terus mendorong Amerika Serikat dan Iran untuk mengedepankan dialog serta melanjutkan proses negosiasi dengan tetap menghormati prinsip-prinsip hukum internasional.
Ia menambahkan, keberlanjutan proses perdamaian antara kedua negara dinilai penting untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung.
Selain itu, upaya tersebut juga dipandang menjadi faktor penting dalam memulihkan keamanan maritim dan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz.
Di tengah seruan deeskalasi tersebut, ketegangan antara kedua negara kembali meningkat. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Selasa malam, 7 Juli 2026, mengonfirmasi telah melancarkan serangkaian serangan terhadap sekitar 80 sasaran militer di Iran. Washington menyebut operasi itu sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Sehari kemudian, Rabu, 8 Juli 2026 pagi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke 85 target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Sasaran yang disebutkan meliputi Pelabuhan Salman, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang sebelumnya disepakati dengan Iran untuk mengakhiri konflik kini tidak lagi berlaku.
"Ini pertanyaan yang sangat menarik bagi saya. Saya rasa itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka (Iran) lagi. Mereka sampah," kata Trump kepada wartawan di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki.
Trump juga mengisyaratkan bahwa kesabarannya terhadap jalur diplomasi telah habis setelah terjadinya serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang. Dalam kesempatan tersebut, ia menyebut para pemimpin Iran di Teheran sebagai "pembohong".
Selain itu, Trump kembali menegaskan bahwa Washington tetap memprioritaskan upaya untuk mewujudkan "denuklirisasi" penuh Iran.
(Sumber: Antara)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang. (Antara)