Ntvnews.id, Washington D.C - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan mulai disingkirkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari proses pembicaraan damai terkait Iran.
Dilansir dari Al Arabiya, Senin, 25 Mei 2026, Ssejumlah pejabat pertahanan Israel menyebut hubungan Trump dengan Netanyahu berubah drastis usai operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel dinilai gagal melumpuhkan Republik Islam Iran. Dari yang sebelumnya menjadi rekan diskusi utama, Netanyahu kini disebut hanya diposisikan sebagai “penumpang”.
Menurut para pejabat tersebut, pemerintahan Trump kecewa karena prediksi Netanyahu mengenai kemenangan cepat atas Iran tidak terbukti.
Akibatnya, Trump disebut hampir sepenuhnya mengeluarkan Netanyahu dari proses negosiasi gencatan senjata dengan Iran.
Dua pejabat pertahanan Israel menyampaikan informasi tersebut kepada The New York Times dengan syarat anonim karena isu tersebut dianggap sensitif.
Mereka menjelaskan bahwa kondisi itu memaksa Israel mengumpulkan informasi mengenai komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran melalui hubungan dengan para pemimpin serta diplomat Timur Tengah, selain lewat pengawasan internal terhadap rezim Iran.
Baca Juga: Trump Disebut Cekcok dengan Netanyahu soal Iran: Saya Bisa Jadi PM Israel
Para pejabat juga menilai pemerintahan Trump kemungkinan tidak lagi bersikeras memasukkan isu rudal balistik Iran dalam kesepakatan baru karena Israel kini tidak dilibatkan dalam proses negosiasi. Mereka khawatir hasil perundingan nantinya tidak akan lebih baik dibanding perjanjian nuklir 2015 yang selama ini dikritik Netanyahu karena tidak menyentuh persoalan rudal Iran.
Selain itu, Israel menduga Amerika Serikat dapat menyetujui pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, yang sejak awal menjadi tuntutan utama Teheran. Langkah itu dikhawatirkan membuka kembali akses keuangan Iran untuk memperkuat persenjataan mereka menghadapi Tel Aviv.
Situasi tersebut dinilai menjadi pukulan bagi Netanyahu yang sebelumnya kerap menonjolkan kedekatannya dengan Trump sejak awal konflik berlangsung.
Menjelang serangan pada 28 Februari lalu, Netanyahu bahkan disebut tidak hanya mendampingi Trump, tetapi juga terlibat langsung dalam pembahasan rencana operasi militer.
Selama ini Netanyahu juga memosisikan diri di hadapan publik Israel sebagai sosok dekat Trump. Dalam berbagai pidato politiknya, ia mengaku hampir setiap hari berkomunikasi dengan Trump untuk bertukar ide dan mengambil keputusan “bersama”.
Ilustrasi bendera AS dan Iran. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) (Antara)
Pada tahap awal konflik, Trump memang diyakini mendukung strategi Netanyahu. Namun, sejumlah pihak di lingkaran dalam Trump mulai meragukan rencana penggulingan rezim Iran yang disebut didorong Netanyahu setelah terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Seiring konflik berjalan, kepentingan Amerika Serikat dan Israel disebut mulai bertolak belakang, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Trump kemudian dikabarkan lebih memilih mengakhiri peperangan dan mulai mengubah pandangannya terhadap Netanyahu. Presiden AS itu disebut hanya melihat Netanyahu sebagai sekutu perang, bukan lagi mitra utama dalam proses diplomasi.
Baca Juga: Netanyahu Ingin Israel Kurangi Ketergantungan Bantuan Militer AS hingga Nol
Bahkan, sejumlah pejabat Amerika Serikat menyebut Trump mulai menganggap Netanyahu sebagai pihak yang perlu dibatasi dalam upaya penyelesaian konflik.
Dalam perkembangan selanjutnya, Trump disebut mengambil kendali lebih besar terhadap perang melawan Iran dengan meminta Israel menunggu “lampu hijau” dari Washington untuk langkah-langkah sensitif tertentu.
Kondisi tersebut disebut sulit diterima sejumlah pejabat Israel. Mereka menilai Tel Aviv selama ini telah mengambil langkah kontroversial, termasuk melakukan pembunuhan di luar proses hukum terhadap pemimpin negara berdaulat, sesuatu yang disebut belum pernah dilakukan Amerika Serikat sebelumnya.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)