Cerita Bos Intelijen AS Mundur, Sempat Berselisih dengan Trump soal Perang Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Mei 2026, 07:41
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih pada 6 April 2026, di Washington DC. (ANTARA/Celal Güne?/Aadolu/pri.) (ANTARA/Celal Güne?/Aadolu/pri.) Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih pada 6 April 2026, di Washington DC. (ANTARA/Celal Güne?/Aadolu/pri.) (ANTARA/Celal Güne?/Aadolu/pri.) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, Tulsi Gabbard, resmi mengundurkan diri dari jabatannya dengan alasan ingin fokus merawat sang suami yang tengah mengidap kanker tulang langka. Namun di balik keputusan tersebut, muncul spekulasi bahwa Gabbard mendapat tekanan dari Gedung Putih terkait perbedaan pandangan mengenai perang melawan Iran.

Pengunduran diri Gabbard diumumkan pada Jumat, 22 Mei 2026 waktu setempat. Sebelum mundur, ia diketahui sempat memiliki ketegangan dengan Presiden AS Donald Trump terkait kebijakan perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Media Fox News melaporkan, mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat itu menyampaikan langsung keputusan pengunduran dirinya kepada Trump dalam pertemuan di Ruang Oval Gedung Putih. Gabbard sendiri menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional AS sejak 2025.

Keputusan tersebut akan berlaku efektif mulai 30 Juni mendatang. Dalam surat yang diunggah melalui media sosial X, Gabbard menyebut dirinya ingin mendampingi suaminya, Abraham Williams, yang tengah menghadapi kondisi kesehatan serius.

"Dia menghadapi tantangan besar dalam beberapa minggu dan bulan ke depan. Saat ini, saya harus mundur dari pelayanan publik untuk berada di sisinya dan sepenuhnya mendukungnya melalui perjuangan ini," kata Gabbard merujuk pada suaminya.

Baca Juga: Vanessa Trump Umumkan Idap Kanker Payudara, Jalani Perawatan Medis Intensif

Gabbard diketahui menikah dengan Williams, seorang sinematografer asal Hawaii, dalam upacara Hindu. Keduanya bertemu saat proses syuting iklan kampanye politik.

Pengunduran diri Gabbard menjadikannya pejabat perempuan keempat yang meninggalkan kabinet Trump dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, Trump telah memecat Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem pada Maret dan Jaksa Agung Pam Bondi pada April. Sementara Menteri Tenaga Kerja Lori Chavez-DeRemer juga mengundurkan diri di tengah sejumlah skandal.

Trump sendiri memberikan apresiasi terhadap kinerja Gabbard selama memimpin badan intelijen nasional AS.

"Tulsi telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kita akan merindukannya," ucap Trump melalui pernyataan di platform Truth Social.

Sebagai Direktur Intelijen Nasional, Gabbard bertugas mengoordinasikan informasi dari 18 badan intelijen Amerika Serikat yang digunakan untuk laporan harian presiden.

Trump juga menilai keputusan Gabbard mundur demi merawat suaminya merupakan langkah yang tepat. Untuk sementara, posisi tersebut akan diisi oleh wakil Gabbard, Aaron Lukas, sebagai pelaksana tugas.

Di tengah pengumuman tersebut, rumor mengenai adanya tekanan politik dari Gedung Putih sempat mencuat. Namun pihak pemerintahan Trump langsung membantah kabar tersebut.

Kepala staf Gabbard, Alexa Kenning, menegaskan alasan pengunduran diri murni karena kondisi kesehatan keluarga.

"Ini keliru. Suaminya, yang merupakan manusia yang luar biasa, telah didiagnosis menderita kanker tulang yang langka," ujar Kenning melalui media sosial X.

Foto yang diambil pada 7 Mei 2026 ini memperlihatkan Gedung Putih di belakang lampu lalu lintas di Washington, D.C., Amerika Serikat. (ANTARA/Xinhua/Li Rui.) <b>(Antara)</b> Foto yang diambil pada 7 Mei 2026 ini memperlihatkan Gedung Putih di belakang lampu lalu lintas di Washington, D.C., Amerika Serikat. (ANTARA/Xinhua/Li Rui.) (Antara)

Senada, juru bicara Gedung Putih Davis Ingle mengatakan, "Setiap anggapan bahwa Gedung Putih memaksanya untuk mengundurkan diri karena kesehatan suaminya adalah fitnah."

Meski demikian, hubungan Gabbard dan Trump memang disebut sempat memanas terkait perang Iran. Selama berkarier di Kongres, Gabbard dikenal sebagai politisi anti-intervensi militer dan kerap menentang keterlibatan perang AS di luar negeri.

Ketegangan mulai terlihat setelah Trump memutuskan menyerang Iran pada akhir Februari lalu. Gabbard dilaporkan tidak ikut hadir saat Trump berdiskusi dengan para penasihat utama sebelum operasi militer diluncurkan pada 28 Februari.

Setelah perang pecah, Gabbard juga beberapa kali menghindari pernyataan terbuka yang mendukung langkah militer Trump. Dalam sidang Kongres pada Maret lalu, ia berhati-hati menjawab pertanyaan mengenai potensi dampak perang tersebut.

Baca Juga: Trump dan Xi Sepakati Denuklirisasi Korut hingga Pembukaan Selat Hormuz

Tak hanya itu, Gabbard juga enggan mendukung klaim Trump yang menyebut Iran sebagai ancaman nyata bagi AS. Ia bahkan menyatakan intelijen Amerika menyimpulkan Iran belum membangun kembali kapasitas pengayaan nuklir yang sebelumnya dihancurkan dalam serangan AS-Israel.

Pernyataan itu sempat direspons langsung oleh Trump.

"Saya tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Saya pikir mereka (Iran-red) sangat dekat untuk memiliki senjata," kata Trump kepada wartawan kala itu.

Pengunduran diri Gabbard juga terjadi dua bulan setelah mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional, Joe Kent, meninggalkan pemerintahan Trump akibat ketidaksetujuannya terhadap perang Iran.

Meski sempat berbeda pandangan, setelah Kent mundur Gabbard akhirnya mendukung keputusan Trump terkait operasi militer terhadap Iran dengan menyatakan bahwa sebagai panglima tertinggi, presiden memiliki kewenangan menentukan ancaman terhadap negaranya.

x|close