Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan proses negosiasi dengan Iran kini memasuki tahap akhir. Namun, Trump kembali memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan apabila Teheran tidak menyetujui kesepakatan damai.
Enam minggu setelah Trump menghentikan Operasi Epic Fury demi membuka jalan gencatan senjata, perundingan untuk mengakhiri konflik disebut belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Trump mengaku hampir memerintahkan serangan lanjutan terhadap Iran, tetapi memilih menunda langkah tersebut demi memberi ruang bagi proses diplomasi.
"Kita berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran. Kita akan lihat apa yang terjadi. Entah ada kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit kejam, tetapi mudah-mudahan itu tidak akan terjadi," katanya kepada wartawan, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat, 22 Mei 2026.
Trump juga menyebut dirinya ingin meminimalkan korban jiwa dalam penyelesaian konflik tersebut.
Baca Juga: Kemendes Perkuat Koperasi Desa Merah Putih untuk Dorong Ekonomi Desa
"Idealnya saya ingin melihat sedikit orang yang terbunuh, bukan banyak. Kita bisa melakukannya dengan cara apa pun," cetus Trump.
Di sisi lain, Iran menuduh Trump sedang mempersiapkan serangan baru dan memperingatkan bahwa setiap agresi akan dibalas lebih luas, termasuk di luar kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan ancaman perang regional akan meluas jika serangan terhadap Iran kembali terjadi.
"Jika agresi terhadap Iran diulangi, perang regional yang dijanjikan akan meluas keluar kawasan kali ini," kata IRGC dalam pernyataannya.
Ilustrasi - Rudal Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang juga menjadi negosiator utama perdamaian Iran menyebut terdapat tanda-tanda Amerika Serikat tengah menyiapkan serangan baru.
"langkah-langkah yang jelas dan tersembunyi oleh musuh" menunjukkan bahwa Amerika sedang mempersiapkan serangan baru.
Ketegangan juga membuat militer Israel meningkatkan kesiagaan penuh menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Kepala Angkatan Darat Israel Eyal Zamir mengatakan pasukan negaranya kini berada dalam status siaga tertinggi di tengah saling ancam antara Teheran dan Washington.
"Saat ini, IDF (militer) berada pada tingkat siaga tertinggi dan siap untuk setiap perkembangan," kata Zamir dalam pertemuan seluruh komandan divisi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, pada 24 Februari 2017. (Gage Skidmore/Wikimedia Commons) (Antara)