Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyambut baik hasil asesmen Dana Moneter Internasional (IMF) yang menilai bahwa perekonomian Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat di tengah tekanan eksternal.
Adapun pertumbuhan ini didukung oleh inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran serta sektor keuangan yang berdaya tahan.
"Bank Indonesia menyambut baik hasil asesmen IMF atas perekonomian Indonesia tersebut sebagaimana tercantum dalam laporan Article IV Consultation 2025 yang dirilis 21 Januari 2026 di situs IMF," ucap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya, Kamis 22 Januari 2026.
Capaian tersebut didukung oleh kerangka kebijakan yang solid, stabilitas makroekonomi yang terjaga, serta komitmen terhadap pertumbuhan inklusif dan pembangunan berkelanjutan.
Baca juga: Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75 Persen di Januari 2026
(Ki-ka) Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam konferensi (Antara)
Komitmen otoritas terhadap kebijakan fiskal dan moneter yang berhati-hati, reformasi struktural yang terarah, serta penguatan sinergi kebijakan menjadi fondasi utama bagi ketahanan ekonomi Indonesia.
Dewan Direktur IMF menyampaikan pandangan terhadap sejumlah poin penting dari kebijakan yang telah diimplementasikan otoritas Indonesia.
Pertama, IMF menilai keberhasilan menjaga inflasi terjaga dalam kisaran sasaran, serta mencatat bahwa pelonggaran kebijakan moneter hingga 2025 diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Kedua, IMF mengapresiasi kemajuan pendalaman pasar keuangan dan penguatan efektivitas transmisi kebijakan moneter. Ketiga, ketahanan sektor keuangan juga dinilai tetap terjaga baik, didukung oleh penguatan kerangka regulasi dan pengawasan, serta pengembangan sektor keuangan.
Keempat, di sisi fiskal, IMF menyoroti komitmen otoritas dalam menerapkan kebijakan fiskal yang berhati-hati dengan dukungan aturan fiskal yang kredibel. Kelima, agenda reformasi struktural menuju status negara berpendapatan tinggi pada 2045.
Baca juga: Bank Indonesia : Juda Agung Mundur dari Deputi Gubernur Sejak 13 Januari 2026
Logo Bank Indonesia (BI) Jakarta. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa/am (Antara)
Dalam laporannya, IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh solid sebesar 5 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 5,1 persen pada 2026.
Meski demikian, IMF mencermati sejumlah risiko global yang perlu diwaspadai, antara lain guncangan akibat ketegangan perdagangan global, dinamika ketidakpastian ekonomi dunia, serta volatilitas pasar keuangan global.
Sejalan dengan itu, IMF merekomendasikan penerapan kebijakan moneter dan nilai tukar berbasis data guna menjaga stabilitas, normalisasi kebijakan makroprudensial longgar secara bertahap seiring pemulihan kredit.
Serta percepatan reformasi struktural untuk memperkuat tata kelola, integrasi perdagangan, dan iklim investasi demi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.
"Proyeksi positif IMF tersebut sejalan dengan asesmen Bank Indonesia yang memperkirakan perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh baik, didukung akselerasi reformasi struktural," lanjutnya.
Menurutnya Bank Indonesia bersama Pemerintah dan otoritas terkait akan terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, menjaga stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan, mempercepat reformasi struktural strategis, serta mempererat koordinasi kebijakan sebagai landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan akseleratif.
Ilustrasi - Logo Dana Moneter Internasional (IMF). (Antara)