Rupiah Tembus Rp17.800-an per Dolar AS, Bank Indonesia Ungkap Biang Keroknya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Sep 2026, 16:05
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) buka suara terkait nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Google Finance pada Senin 21 September 2026 pukul 15.00 WIB, rupiah melemah di level Rp17.840 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal maupun domestik.

Menurut Erwin, salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut turut menjaga harga minyak tetap tinggi, bahkan berada di atas USD100 per barel.

"Pelemahan nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD100 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal," ucap Erwin dalam keterangan tertulis, Senin 21 September 2026.

Baca jugaBank Indonesia: Keyakinan Konsumen terhadap Kondisi Ekonomi Meningkat pada Agustus 2026

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkap sejumlah pekerjaan rumah (PR) besar yang akan dihadapi seusai diambil sumpah jabatan sekaligus dilantik di Mahkamah Agung (MA), pada Rabu 2 September 2026. <b>(Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)</b> Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkap sejumlah pekerjaan rumah (PR) besar yang akan dihadapi seusai diambil sumpah jabatan sekaligus dilantik di Mahkamah Agung (MA), pada Rabu 2 September 2026. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Lebih lanjut, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," lanjutnya.

Erwin menegaskan BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya, melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market.

Tak hanya itu, BI juga memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.

Erwin menambahkan intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT)," ungkapnya.

Baca juga: Destry Ungkap Arah Kebijakan Bank Indonesia, Pegang Prinsip 3I Plus S

Secara umum, BI mencatat pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37 persen.

"Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026," tandasnya.

x|close