Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Senin 14 September 2026.
Adapun rupiah turun 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.614 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah berpotensi kembali mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal, terutama data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan.
Menurutnya, data inflasi AS yang lebih kuat dari ekspektasi pasar memicu kembali kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS yg lebih kuat dari perkiraan memicu kenaikan kembali pada imbal obligasi AS," ucap Lukman kepada Ntvnews.id, 14 September 2026.
Baca juga: Rupiah Pekan Depan Diproyeksi Berkisar Rp17.500-Rp17.850 per Dolar AS
Baca juga: Rupiah Jelang Akhir Pekan Melemah ke Rp17.585 per Dolar AS
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah menembus di atas USD100 per barel juga menjadi faktor yang membebani rupiah.
"Harga minyak mentah dunia yang juga terus naik melewati USD100 per barel ikut memberikan tekanan pada rupiah," lanjutnya.
Diperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada dalam rentang Rp17.550 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2025. (Antara)