Bukan Gaya Hidup, Kepepet Jadi Penyebab Utama Orang Pakai Pinjol

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Jul 2026, 08:08
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Warga mencari sejumlah aplikasi pinjaman online/daring (pinjol/pindar) melalui gawainya. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/sgd Warga mencari sejumlah aplikasi pinjaman online/daring (pinjol/pindar) melalui gawainya. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/sgd (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa mayoritas masyarakat yang menggunakan aplikasi pinjaman online (pinjol) untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Berdasarkan hasil Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna 2026 yang dikutip, Senin 6 Juli 2026, sebanyak 22,8 persen pengguna pinjaman online mengaku meminjam dana untuk memenuhi kebutuhan mendesak, seperti biaya kesehatan, menutup utang, dan keperluan darurat lainnya. 

Selain kebutuhan mendesak, alasan berikutnya adalah untuk belanja kebutuhan sehari-hari sebesar 18,3 persen, disusul membeli barang dengan fasilitas cicilan tanpa kartu kredit sebanyak 17,6 persen.

Kemudahan proses pengajuan juga menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat memanfaatkan layanan pinjaman digital. Sebanyak 15,9 persen mengaku memilih pinjaman online karena proses pengajuannya mudah dan cepat.

Sementara itu, generasi Milenial menjadi pengguna terbesar dengan porsi 45,6 persen, diikuti Generasi Z sebesar 35,7 persen, Generasi X 16,7 persen, dan Baby Boomers 2 persen. Sementara kelompok Pre Boomers tidak tercatat menggunakan layanan pinjaman online.

Baca juga: Pemerintah Dpat Rp52,85 Triliun dari Pajak Kripto hingga Pinjol per Mei 2026

Baca juga: OJK Dalami Temuan Entitas Jasa Penyelesaian Utang Pinjol yang Klaim Terdaftar

Dari sisi pendapatan, pengguna pinjaman online paling banyak berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan Rp2,5 juta hingga Rp5 juta per bulan, dengan porsi mencapai 53,5 persen. 

Selanjutnya disusul kelompok berpenghasilan Rp1 juta hingga Rp2,5 juta sebesar 24,7 persen, serta pendapatan Rp7,5 juta hingga Rp10 juta sebesar 20 persen.

Adapun survei APJII tersebut dilakukan pada 1 Februari hingga 15 Maret 2026 terhadap 8.700 responden warga negara Indonesia berusia minimal 13 tahun yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi. 

Alasan menggunakan pinjaman online

1. Memenuhi kebutuhan mendesak (biaya kesehatan, menutup utang, dan kebutuhan darurat lainnya) – 22,8 persen
2. Belanja kebutuhan sehari-hari – 18,3 persen
3. Membeli barang dengan cicilan tanpa kartu kredit – 17,6 persen
4. Proses pengajuan mudah dan cepat – 15,9 persen
5. Promosi atau diskon dari layanan pinjaman online – 10,3 persen
6. Membayar tagihan (listrik, air, dan lainnya) – 8,4 persen
7. Tidak memiliki akses ke layanan pinjaman konvensional seperti bank – 2,3 persen
8. Untuk modal usaha – 2,3 persen
9. Memenuhi tuntutan gaya hidup (liburan atau hiburan) – 2 persen
10. Membeli pulsa – 0,1 persen

Berdasarkan generasi

1. Milenial: 45,2 persen (2025), naik 45,6 persen (2026)
2. Gen Z: 41,5 persen (2025), turun 35,7 persen (2026)
3. Gen X: 11,8 persen (2025), naik 16,7 persen (2026) 
4. Baby Boomers: 1,7 persen (2025), naik 2 persen (2026) 
5. Pre Boomers: 0,0 persen (2025), tetap 0,0 persen (2026).

x|close