CEO Lamborghini Ungkap Kekurangan Supercar China yang Sulit Ditiru

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Agu 2026, 12:02
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Lamborghini Huracan Evo Spyder dipamerkan di Pameran Geneva International Motor Show (GIMS) ke-89 di Jenewa, Swiss, 5 Maret 2019. (Foto: Dok/Pierre Albouy/Reuters) Lamborghini Huracan Evo Spyder dipamerkan di Pameran Geneva International Motor Show (GIMS) ke-89 di Jenewa, Swiss, 5 Maret 2019. (Foto: Dok/Pierre Albouy/Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, mengaku tidak khawatir dengan semakin banyaknya produsen mobil asal China yang mulai menghadirkan mobil sport dan supercar berperforma tinggi. 

Menurutnya, ada satu elemen penting yang membuat Lamborghini masih sulit disaingi, yakni emosi berkendara.

Dalam beberapa tahun terakhir, produsen otomotif China tidak lagi hanya bermain di segmen mobil massal. 

Sejumlah merek mulai masuk ke pasar mobil sport berperforma tinggi dan supercar, terutama dengan mengandalkan teknologi motor listrik serta baterai berkapasitas besar.

Salah satu contohnya adalah YangWang U9, yang berhasil mencetak rekor kecepatan tinggi untuk mobil produksi baru pada akhir tahun lalu. 

Tak hanya itu, Denza juga telah memperkenalkan Denza Z dengan sistem penggerak tiga motor yang menghasilkan tenaga hingga 1.582 hp. 

Menariknya, mobil tersebut dibanderol dengan harga yang lebih rendah dibandingkan Porsche 911 Carrera 4 GTS.

Meski perkembangan tersebut cukup mengesankan, Winkelmann mengatakan Lamborghini tidak melihat produsen China sebagai ancaman langsung.

Dalam wawancara dengan Auto Express, seperti dikutip Carscoops, Rabu (26/8/2026), Winkelmann mengatakan, "Kami tidak melihat ini sebagai ancaman... karena mereka membuat mobil listrik."

Dia menjelaskan, keputusan Lamborghini untuk tidak sepenuhnya beralih ke mobil listrik juga berkaitan dengan karakter dan filosofi merek tersebut.

Menurut Winkelmann, mobil-mobil China saat ini belum mampu menyamai Lamborghini dalam hal performa, suara mesin, dan emosi yang ditawarkan kepada pengemudi.

Baca Juga: Porsche Gandeng XPeng Demi Pertahankan Mesin Bensin di Tengah Aturan Emisi Uni Eropa

Pandangan tersebut memang masih bisa diperdebatkan, terutama jika melihat performa sejumlah supercar listrik asal China yang semakin mengesankan. 

Namun, Winkelmann memiliki poin tersendiri dalam hal suara dan sensasi berkendara.

Seberapa cepat pun sebuah mobil listrik, karakter suara dan respons khas mesin pembakaran internal tetap menjadi bagian penting dari pengalaman mengendarai sebuah supercar bagi sebagian penggemarnya.

Supercar V8 China Siap Tantang Ferrari dan Lamborghini

Menariknya, sejumlah produsen China tampaknya mulai menyadari di mana mesin pembakaran internal (ICE) masih memiliki daya tarik tersendiri.

Salah satunya adalah Great Wall Motors (GWM) yang tengah mengembangkan supercar bermesin tengah. 

Berbeda dari tren supercar listrik yang berkembang di China, mobil tersebut justru akan menggunakan mesin pembakaran internal yang dipadukan dengan teknologi hybrid plug-in.

Supercar GWM ini disebut akan mengandalkan mesin V8 4.0 liter twin-turbocharged yang dipadukan dengan sistem elektrifikasi. Mobil tersebut juga dirancang menggunakan monokok berbahan serat karbon untuk menekan bobot.

GWM sebelumnya menyatakan supercar tersebut akan diarahkan untuk menjadi pesaing langsung Ferrari SF90 Stradale, salah satu supercar hybrid paling populer di kelasnya.

Kini, pertanyaannya adalah apakah produsen China mampu membawa keahlian mereka dalam mengembangkan mobil listrik berperforma tinggi ke dunia supercar bermesin pembakaran.

Jika GWM dan produsen China lainnya berhasil melakukannya, Lamborghini mungkin tidak bisa lagi menganggap mereka sebagai pesaing yang dapat diabaikan.

Persaingan supercar global pun berpotensi memasuki babak baru, bukan hanya soal tenaga dan kecepatan, tetapi juga mengenai suara mesin, karakter berkendara, serta emosi yang dirasakan pengemudi di balik kemudi.

HIGHLIGHT

x|close