Porsche Gandeng XPeng Demi Pertahankan Mesin Bensin di Tengah Aturan Emisi Uni Eropa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Agu 2026, 09:18
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Porsche Macan Turbo. (Foto: Istimewa via ArenaEV) Porsche Macan Turbo. (Foto: Istimewa via ArenaEV)

Ntvnews.id, Jakarta - Porsche mengambil langkah tak biasa untuk menghadapi tekanan regulasi emisi Uni Eropa (UE). 

Produsen mobil sport asal Jerman itu menggandeng raksasa kendaraan listrik (EV) China, XPeng, dalam skema penggabungan emisi untuk mengurangi risiko denda sekaligus memberi ruang bagi mesin pembakaran internal (ICE) tetap bertahan.

Dikutip dari ArenaEV, Rabu (19/8/2026), langkah ini berkaitan dengan aturan Uni Eropa yang menetapkan batas rata-rata emisi mobil baru sebesar 93,6 gram CO₂ per kilometer. 

Pelanggaran dapat dikenai denda €95 atau sekitar Rp1,9 juta (dengan kurs Rp20.690 per euro) untuk setiap gram di atas batas, dikalikan jumlah kendaraan yang terdaftar.

Bagi Volkswagen Group, aturan tersebut berpotensi menimbulkan beban besar. CFO Grup Volkswagen, Arno Antlitz, menyebut denda tahunan dapat mencapai €400 juta (Rp8,2 triliun) hingga €500 juta (Rp10,3 triliun), dengan potensi total sekitar €1,5 miliar (Rp31 triliun).

Porsche menjadi salah satu penyumbang emisi tinggi dalam grup tersebut. Meski telah memiliki Taycan dan Macan Electric, penjualan model bermesin bensin seperti Cayenne, Panamera, dan 911 GT3 membuat rata-rata emisi Porsche masih berada di sekitar 130,2 g/km.

Untuk mengatasinya, Porsche memanfaatkan mekanisme pooling emisi yang diizinkan regulasi Uni Eropa. 

Melalui skema ini, produsen dengan emisi tinggi dapat bergabung dengan produsen kendaraan listrik yang memiliki emisi lebih rendah sehingga rata-rata emisi armada dapat ditekan.

Di sinilah XPeng menjadi mitra strategis. Penjualan mobil listrik XPeng di Eropa menciptakan surplus kredit emisi yang dapat digunakan dalam kerja sama tersebut. 

Baca Juga: Nasib Porsche Taycan di Ujung Tanduk, Penjualan Anjlok dan Terancam Disuntik Mati

Bagi Porsche, langkah ini membantu mengurangi tekanan regulasi tanpa harus melakukan elektrifikasi secara agresif. Kerja sama tersebut juga memperlihatkan perubahan menarik dalam industri otomotif global. 

Produsen mobil sport Jerman yang selama puluhan tahun identik dengan mesin bensin kini justru mengandalkan perusahaan EV China untuk membantu mempertahankan lini kendaraan bermesin pembakaran.

Perbedaan harga produk kedua perusahaan juga mencolok. Porsche Macan Electric dibanderol mulai sekitar €84.600 (Rp1,7 miliar) di Eropa, sementara XPeng G9 mulai sekitar €59.600 (Rp1,2 miliar). 

Dengan teknologi pengisian cepat 800 volt, XPeng semakin menunjukkan produsen EV China mampu bersaing di segmen premium.

Bagi Porsche, kerja sama dengan XPeng memberikan ruang bernapas untuk mempertahankan mesin bensin dan hybrid plug-in lebih lama.

Sementara bagi XPeng, kesepakatan ini menjadi peluang bisnis dari surplus kredit emisi yang dimilikinya.

Pada akhirnya, aturan yang dirancang untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik justru menciptakan strategi baru di industri otomotif. 

Porsche belum meninggalkan mesin pembakaran internal. Sebaliknya, perusahaan kini mencari cara agar mesin tersebut tetap hidup di tengah tekanan regulasi Eropa.

HIGHLIGHT

x|close