Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali memicu ketegangan dagang global.
Mengutip Carscoops, Sabtu (2/4/2026), Trump mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif impor kendaraan dari Uni Eropa (UE) menjadi 25% mulai minggu depan, naik dari tarif saat ini sebesar 15%.
Dia menyebut langkah ini sebagai respons atas "ketidakpatuhan terhadap kesepakatan perdagangan" oleh pihak Eropa. Namun, Trump tidak merinci pelanggaran apa yang dimaksud.
Sebagai solusi, Trump mendorong produsen mobil Eropa untuk memindahkan produksi mereka ke Amerika Serikat guna menghindari beban tarif.
Sejumlah pabrikan besar sebenarnya telah memiliki fasilitas produksi di AS, seperti BMW, Mercedes-Benz, Volvo, dan Volkswagen.
Bahkan, Volkswagen tengah membangun fasilitas baru di South Carolina untuk memproduksi model Scout Terra dan SUV Traveler, memperkuat kehadiran mereka di pasar Negara Paman Sam tersebut.
Meski demikian, belum ada kepastian apakah kebijakan ini benar-benar akan diberlakukan. Laporan dari Reuters menyebutkan tarif baru tersebut akan menjadi tambahan 10% dari tarif yang sudah ada.
Trump mengklaim kebijakan ini akan menghasilkan miliaran dolar bagi AS sekaligus mendorong produsen mobil Eropa mempercepat pembangunan pabrik mereka. Namun, para analis menilai dampaknya tidak sesederhana itu.
Kenaikan tarif berpotensi dibebankan kepada konsumen melalui harga kendaraan yang lebih mahal. Selain itu, pembangunan pabrik baru membutuhkan waktu bertahun-tahun, sehingga efek jangka pendeknya terbatas.
Meski begitu, produsen yang sudah memiliki fasilitas di AS bisa lebih cepat beradaptasi. Contohnya, Volvo akan menambah produksi XC60 di pabrik South Carolina, sementara Mercedes-Benz berencana memproduksi GLC di Alabama.
Langkah ini juga dinilai sarat nuansa politik. Trump sebelumnya mengkritik Uni Eropa terkait berbagai isu, termasuk sikap mereka terhadap konflik di Iran dan lambatnya implementasi kesepakatan perdagangan dengan AS, yang diperkirakan baru rampung paling cepat Juni mendatang.
Ancaman tarif tersebut memicu reaksi keras dari pejabat Eropa. Mereka menyebut kebijakan ini "tidak dapat diterima" dan menilai Amerika Serikat sebagai mitra yang "tidak dapat diandalkan".
Bahkan, beberapa pihak menyerukan agar Uni Eropa membalas dengan tarif balasan dan pajak terhadap perusahaan teknologi asal AS.
Ketegangan ini berpotensi memicu babak baru dalam perang dagang transatlantik yang bisa berdampak luas pada industri otomotif global.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara kepada pers di Washington DC. (Foto: ANTARA/Anadolu Ajensi/pri) (Antara)