Ntvnews.id, Jakarta - Nissan Motor mengumumkan keberhasilannya memangkas siklus pengembangan kendaraan hingga 50 persen, dari sebelumnya 55 bulan menjadi hanya 26 bulan.
Melansir CarNewsChina, Senin (15/6/2026), langkah ini menjadi bagian dari strategi besar perusahaan untuk mempercepat inovasi dan meningkatkan daya saing di tengah ketatnya persaingan industri otomotif global.
Perubahan tersebut banyak terinspirasi dari pendekatan produsen otomotif China yang mengandalkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan proses pengembangan yang lebih cepat serta fleksibel.
Presiden Nissan, Ivan Espinosa, mengungkapkan model pengembangan terbaru ini telah diuji pada Nissan Skyline generasi terbaru yang dijadwalkan meluncur pada tahun 2026.
Nissan bahkan menargetkan sekitar 90 persen proyek kendaraan barunya akan menggunakan metode ini pada tahun fiskal 2026.
Belajar dari China
Transformasi Nissan tidak lepas dari pengalaman perusahaan di pasar China. Melalui kerja sama dengan Dongfeng Motor, Nissan mengadopsi berbagai teknologi dan keahlian lokal yang terbukti mampu mempercepat proses pengembangan kendaraan.
Salah satu contoh suksesnya adalah sedan listrik Nissan N7 yang diluncurkan pada April 2025. Model ini dikembangkan hanya dalam waktu dua tahun dan menjadi proyek percontohan bagi strategi percepatan Nissan.
Baca Juga: Ferrari Gaspol Mobil Listrik, Lamborghini Tegaskan Konsumen Supercar Belum Siap EV
AI Jadi Kunci Percepatan
Untuk memangkas waktu pengembangan secara signifikan, Nissan menerapkan teknologi AI di berbagai tahapan produksi kendaraan.
1. Desain Lebih Cepat dan Efisien
AI membantu menghasilkan berbagai konsep desain secara otomatis dengan mempertimbangkan aspek aerodinamika dan estetika. Proses yang sebelumnya membutuhkan banyak revisi manual kini dapat diselesaikan lebih cepat.
2. Pengujian Virtual Kurangi Prototipe Fisik
Lebih dari 60 persen pengujian kini dilakukan melalui simulasi digital. Metode ini mempercepat evaluasi keselamatan, uji tabrak, hingga pengujian daya tahan kendaraan tanpa harus membuat banyak prototipe fisik.
3. Pengambilan Keputusan Lebih Cepat
Analisis data berbasis AI memungkinkan Nissan membaca tren pasar secara real-time dan mempercepat proses persetujuan internal, sehingga respons terhadap kebutuhan konsumen menjadi lebih cepat.
4. Rantai Pasok Lebih Terprediksi
Teknologi AI juga digunakan untuk memprediksi kebutuhan komponen dan potensi gangguan pasokan. Dengan begitu, proses transisi dari tahap riset hingga produksi massal dapat berjalan lebih lancar.
Tantangan di Pasar China
Meski berhasil melakukan transformasi besar dalam pengembangan produk, Nissan masih menghadapi tantangan di pasar China.
Pada Mei 2026, penjualan Nissan di negara tersebut tercatat sebanyak 30.025 unit, turun 41,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa Nissan terus mempercepat inovasi dan efisiensi, termasuk dengan mengadopsi strategi pengembangan kendaraan yang lebih cepat seperti yang diterapkan para produsen otomotif China.
Mobil Nissan N7. (Foto: Istimewa via Carscoops)