Hashim: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Apr 2026, 19:30
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo dalam acara Economic Briefing 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (23/4/2026). ANTARA/Aji Cakti/aa. Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo dalam acara Economic Briefing 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (23/4/2026). ANTARA/Aji Cakti/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo menegaskan bahwa Indonesia tetap memiliki fondasi ekonomi yang kokoh meskipun dunia tengah dilanda ketidakpastian geopolitik. Menurutnya, ketahanan pangan, energi, dan fiskal nasional masih berada dalam kondisi yang terjaga.

Ia menjelaskan bahwa stabilitas sektor energi Indonesia didukung oleh langkah antisipatif pemerintah serta diplomasi strategis yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto dengan berbagai mitra global.

“Upaya swasembada pangan, penguatan cadangan energi, termasuk komitmen pasokan minyak hingga sekitar 150 juta barel melalui kerja sama internasional, serta diplomasi tingkat tinggi turut memperkokoh posisi Indonesia dibanding banyak negara lain,” ujar Hashim dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.

Baca Juga: Luhut: Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tetap Stabil Tiga Bulan ke Depan

Ke depan, ia menilai penguatan kapasitas fiskal perlu terus dilakukan melalui optimalisasi penerimaan negara. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan digitalisasi serta sistem pengawasan berbasis teknologi agar pendapatan negara semakin efisien dan transparan.

Dalam kesempatan tersebut, Hashim juga mengungkapkan bahwa Indonesia memperoleh komitmen pasokan minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia dengan harga khusus. Kesepakatan ini merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia pada 13 April, di mana ia bertemu dengan Presiden Vladimir Putin selama tiga jam.

Menurut Hashim, Rusia awalnya menyetujui pengiriman 100 juta barel minyak, dengan opsi tambahan 50 juta barel jika Indonesia masih membutuhkan pasokan tambahan. Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah krisis global yang dipicu konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Baca Juga: Airlangga Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen pada Kuartal I 2026

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa impor minyak mentah dari Rusia ditargetkan mulai terealisasi pada April 2026. Sementara itu, rencana impor LPG dari Rusia masih dalam tahap finalisasi, termasuk penentuan proporsi terhadap kebutuhan nasional.

Pemerintah menilai berbagai langkah tersebut sebagai bagian dari strategi untuk memastikan keandalan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.

(Sumber: Antara)

x|close