Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan bahwa alokasi dana sebesar Rp1,7 triliun yang diumumkan sebelumnya bukan merupakan total anggaran riset nasional tahun 2026 bagi perguruan tinggi.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa angka tersebut hanya mencakup sembilan program pendanaan dari APBN yang telah dibuka sejak 9 April 2026.
Ia menyebutkan total dana riset yang dapat diakses perguruan tinggi pada tahun ini sebenarnya jauh lebih besar, yakni sekitar Rp8 triliun.
Jumlah tersebut berasal dari kombinasi anggaran APBN Kemdiktisaintek sebesar Rp3,2 triliun, dana abadi LPDP, serta program riset yang dikelola Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Baca Juga: Dirut LPDP Tegaskan Beasiswa Bersifat Inklusif dan Fokus pada Talenta Unggul
"Jadi kalau kita gabungkan dana abadi penelitian dan perguruan tinggi dengan tadi dana riset kita dari APBN plus lagi dana di BRIN itu totalnya sekitar Rp8 triliun dan itu benar di sosial media. Jadi yang kurang tepat adalah Rp1,7 triliun, ini bukan total dari dana riset kita," kata Fauzan.
Ia juga memastikan bahwa anggaran riset tahun ini tidak mengalami penurunan.
Beberapa skema pendanaan lain, seperti program hilirisasi riset prioritas, masih dalam proses dan akan diumumkan secara bertahap.
Fauzan menjelaskan bahwa alokasi awal dana riset difokuskan pada pemerataan agar semakin banyak perguruan tinggi dan peneliti muda dapat terlibat dalam ekosistem riset nasional.
Dari sisi distribusi, pendanaan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) didominasi bidang sosial humaniora dengan 6.819 proposal atau 38,36 persen.
Selanjutnya disusul bidang kesehatan sebanyak 3.713 proposal (20,89 persen) dan pangan sebanyak 3.023 proposal (17,01 persen).
Adapun sisanya tersebar pada bidang rekayasa keteknikan (14,86 persen), energi (4,71 persen), maritim (2,38 persen), transportasi (1,23 persen), serta pertahanan dan keamanan (0,57 persen).
Tingginya minat dari perguruan tinggi menyebabkan persaingan menjadi semakin ketat.
Dari total 104.000 proposal yang diajukan, hanya 18.215 proposal yang berhasil memperoleh pendanaan, dengan tingkat keberhasilan sekitar 17,4 persen.
Khusus untuk penelitian murni, tingkat seleksi bahkan lebih ketat dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Kemdiktisaintek Kucurkan Rp1,7 Triliun untuk 18 Ribu Riset 2026
"Sebetulnya besaran kelolosannya itu tahun ini sebesar 13 persen. Jadi bayangkan tahun lalu untuk penelitian itu 32 persen. Jadi kalau ada tiga orang jalan bergandengan tangan satu dapat dana gitu. Sekarang hampir sepuluh orang baru satu dapat dana," ujar Fauzan.
Meski demikian, Kemdiktisaintek menilai meningkatnya jumlah proposal merupakan indikator positif bagi perkembangan ekosistem riset di Indonesia.
Fauzan menegaskan pihaknya akan terus membuka komunikasi dua arah dengan para peneliti guna merumuskan strategi lanjutan, termasuk memanfaatkan sisa anggaran agar dapat menjangkau lebih banyak penelitian.
(Sumber: Antara)
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek Fauzan Adziman pada Penandatanganan Kontrak Program Pendanaan Riset di Jakarta, Senin (20/4/2026). ANTARA/HO-Kemdiktisaintek (Antara)