BRIN Ingatkan Potensi Kembalinya Wabah Pes di Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Apr 2026, 14:58
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Hama tikus. ANTARA FOTO/Liem Mahesa Putra/hp/aa. Ilustrasi - Hama tikus. ANTARA FOTO/Liem Mahesa Putra/hp/aa. (Antara)

Ntvnews.id , Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional

melalui Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi mengingatkan masyarakat terkait potensi kembalinya wabah pes di Indonesia.

Peneliti BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa meskipun dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, terdapat fenomena yang disebut silent period, yakni kondisi ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali.

"Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali," katanya, Senin, 13 April 2026.

Ia menyebut pes diduga masih berada dalam fase tersebut.

Hal ini didukung oleh temuan bahwa bakteri penyebab serta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Baca Juga: BPOM Dorong Label Nutri-Level untuk Tekan Angka Penyakit Tidak Menular di Indonesia

Menurutnya, perubahan lingkungan menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit tersebut.

Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk dinilai mengganggu keseimbangan ekosistem dan mendorong habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia.

"Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri," ujar Ristiyanto.

Peneliti lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menambahkan bahwa perubahan iklim juga berkontribusi terhadap meningkatnya populasi pinjal sebagai vektor penyakit.

"Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia, menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai," ucap Choirul.

Ia menegaskan bahwa tikus sebagai reservoir utama bakteri penyebab pes masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, sehingga potensi penularan kepada manusia tetap ada melalui gigitan pinjal.

Baca Juga: BPS Temukan 3.934 Peserta PBI JKN Pengidap Penyakit Katastropik Telah Meninggal Dunia

Meski tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, beberapa wilayah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai daerah fokus, seperti Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.

Choirul mengingatkan bahwa ketiadaan kasus bukan berarti penyakit tersebut telah hilang sepenuhnya.

Sebagai langkah pencegahan, ia merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit.

Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pengawasan wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah di masa depan.

(Sumber: Antara)

x|close