Ntvnews.id, Jakarta - Profesor Riset Ilmu Ekonomi Pertanian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robert Asnawi, menilai ubi kayu memiliki potensi besar sebagai sumber pangan alternatif sekaligus peningkat pendapatan petani di Indonesia.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 1 April 2026, Robert mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen hasil ubi kayu nasional masih dijual dalam bentuk segar, sehingga peluang peningkatan nilai tambah melalui pengolahan masih sangat terbuka.
Dari sisi produktivitas, ia menyebut rata-rata produksi saat ini berada di kisaran 26 ton per hektare. Namun, dengan pengelolaan yang optimal, potensi hasil panen bisa meningkat hingga 50–60 ton per hektare.
Baca Juga: BRIN Dorong Sinergi Riset Alutsista guna Perkuat Teknologi Pertahanan Nasional
Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi produksi untuk merespons tren meningkatnya kebutuhan pangan alternatif.
"Hal tersebut, seharusnya mengakibatkan ubi kayu memiliki peluang besar untuk menjadi substitusi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Menurut Robert, transformasi sektor ubi kayu perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produktivitas melalui inovasi teknologi budidaya, penerapan harga berbasis kualitas secara transparan, hingga penguatan kemitraan antara petani dan industri.
Selain itu, sistem tanam yang lebih efisien dinilai dapat meningkatkan hasil secara signifikan. Petani juga didorong menerapkan pola tumpang sari, seperti menanam jagung atau kedelai, guna meningkatkan pendapatan dan mengurangi risiko usaha.
Baca Juga: BRIN Perkuat Diplomasi Antariksa Indonesia Lewat Partisipasi di UN-COPUOS 2026
Ia menambahkan bahwa kemitraan inklusif menjadi faktor penting dalam pengembangan sektor ini, di mana industri tidak hanya berperan sebagai pembeli, tetapi juga sebagai pendukung dalam penyediaan bibit, sarana produksi, hingga pendampingan teknis.
Lebih lanjut, pengembangan ubi kayu perlu diarahkan pada hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat kelembagaan petani, serta membangun sistem distribusi yang lebih inklusif.
"Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut aspek ekonomi, sosial, dan kelembagaan," katanya.
(Sumber: Antara)
Profesor Riset Ilmu Ekonomi Pertanian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Robert Asnawi membawakan orasi ilmiah dalam kegiatan Pengukuhan Profesor Riset BRIN di Jakarta, Selasa (31/3/2026). ANTARA/HO-BRIN (Antara)