Inggris Pasang Sistem Anti-Drone Baru pada Jet Tempur yang Dikerahkan di Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Mei 2026, 20:05
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Jet tempur Angkatan Udara Inggris Typhoon Eurofighter mendemonstrasikan pencegatan pesawat angkatan udara Belgia saat mereka terbang di atas Inggris, Selasa 14 Januari 2020, sebagai bagian dari latihan NATO untuk menghalangi pesawat Rusia masuk ke ruang udara aliansi. Foto diambil tanggal 14 Januari 2020. (REUTERS/JOHANNA GERON) Ilustrasi - Jet tempur Angkatan Udara Inggris Typhoon Eurofighter mendemonstrasikan pencegatan pesawat angkatan udara Belgia saat mereka terbang di atas Inggris, Selasa 14 Januari 2020, sebagai bagian dari latihan NATO untuk menghalangi pesawat Rusia masuk ke ruang udara aliansi. Foto diambil tanggal 14 Januari 2020. (REUTERS/JOHANNA GERON) (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Pemerintah Inggris mengumumkan akan melengkapi jet tempur Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) yang dikerahkan di kawasan Timur Tengah dengan sistem anti-drone terbaru.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap warga negara Inggris maupun mitra regional dari ancaman serangan drone di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

"Warga negara Inggris dan mitra regional akan lebih terlindungi dari serangan drone karena Angkatan Udara Kerajaan (RAF) mengerahkan senjata anti-drone berbiaya rendah baru dalam operasi di Timur Tengah," kata pemerintah Inggris dalam sebuah pernyataan, dikutip Minggu, 17 Mei 2026.

Baca Juga: Inggris Siap Kerahkan Kapal Perang dan Jet Tempur Amankan Selat Hormuz

Pemerintah Inggris menjelaskan sistem baru yang digunakan adalah Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) atau Sistem Senjata Pembunuh Presisi Canggih.

Teknologi tersebut nantinya dipasang pada jet tempur Typhoon RAF agar mampu menghancurkan target secara lebih tepat dengan biaya operasional yang lebih murah dibandingkan rudal yang selama ini digunakan.

Dalam keterangannya, pemerintah Inggris juga menyebut proses pengembangan hingga penerapan sistem tersebut berlangsung cukup cepat, yakni kurang dari dua bulan sejak tahap pengujian dilakukan.

Sebelumnya pada April 2026, media iPaper melaporkan sejumlah pejabat Inggris mengkhawatirkan kemungkinan serangan Iran terhadap pangkalan gabungan Inggris-Amerika Serikat dan Kedutaan Besar Inggris di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Indonesia Jadi Pembeli Pertama Jet Tempur Nirawak KIZILELMA dari Turki

Fasilitas tersebut diketahui digunakan sebagai pusat koordinasi militer bersama Amerika Serikat apabila konflik regional semakin meningkat.

Sementara itu, pada Maret 2026 lalu, pangkalan militer Inggris di Akrotiri, Siprus, sempat terkena serangan drone yang menurut Kementerian Pertahanan Inggris diduga berasal dari Lebanon atau Irak.

(Sumber: Antara)

x|close