Orang Tua Somasi RSHS Bandung, Pertimbangkan Tes DNA Usai Kasus Bayi Nyaris Tertukar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Apr 2026, 16:51
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Rumah Sakit Hasan Sadikin atau RSHS Rumah Sakit Hasan Sadikin atau RSHS (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kasus dugaan kelalaian yang menyebabkan seorang bayi nyaris dibawa oleh orang tidak dikenal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kini memasuki tahap yang lebih serius. Pihak orang tua bayi mengambil langkah tegas dengan melayangkan somasi kepada pihak rumah sakit, sembari mempertimbangkan uji DNA untuk memastikan identitas anak mereka secara ilmiah.

Kuasa hukum keluarga, Mira Widyawati, menyampaikan bahwa somasi telah diserahkan langsung kepada pihak rumah sakit dengan tenggat waktu 3x24 jam. Langkah ini ditempuh setelah upaya klarifikasi yang dilakukan pada Senin (13/4) tidak membuahkan hasil memuaskan. Dalam pertemuan tersebut, pihak keluarga tidak berhasil menemui direktur utama RSHS dan hanya diterima oleh kepala biro hukum.

“Pada akhirnya, kita hanya menyatakan ingin tahu sosok perawat, satpam, dan pasangan suami istri yang sempat menerima bayi klien kami, tapi belum dijawab,” ujar Mira saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (14/4).

Hingga kini, keluarga mengaku belum menerima respons resmi dari rumah sakit atas somasi tersebut. Mereka menegaskan akan menempuh jalur hukum apabila batas waktu yang diberikan terlewati tanpa kejelasan.

“Kalau sampai besok tidak ada tanggapan, kita akan tempuh jalur hukum,” tegasnya.

Baca Juga: Menhut: Perhutanan Sosial Jadi Peluang Ekonomi Karbon untuk Kesejahteraan Masyarakat

Di tengah proses tersebut, keluarga juga membuka kemungkinan melakukan tes DNA melalui tim independen. Langkah ini dipertimbangkan sebagai upaya memastikan identitas bayi secara objektif, menyusul munculnya berbagai laporan dari masyarakat yang mengaku mengalami kejadian serupa.

“Banyak DM yang masuk, ada yang mengaku hampir tertukar juga bayinya. Jadi kami merasa perlu tes DNA oleh tim independen supaya semuanya transparan,” jelas Mira.

Keputusan mempertimbangkan tes DNA juga didasari oleh situasi saat insiden terjadi, di mana sempat ada pasangan suami istri yang mengklaim bayi tersebut sebagai anak mereka. Meski demikian, ibu bayi, Nina Saleha, tetap yakin dengan identitas anaknya berdasarkan ciri khusus pada selimut yang digunakan.

Baca Juga: Survei Cyrus Network: 64,5% Publik Nilai Program MBG Berjalan Baik dan Layak Dilanjutkan

Selain fokus pada identitas bayi, pihak keluarga juga menyoroti penanganan internal rumah sakit terhadap dugaan kelalaian tersebut. Mereka menilai sanksi administratif berupa penonaktifan dan peringatan pertama (SP1) kepada tenaga medis tidak sebanding dengan potensi risiko yang ditimbulkan.

“Ini bukan kasus kecil. Rumah sakit seharusnya menjadikan ini sebagai pintu masuk untuk membenahi sistem, karena banyak laporan lain yang kami terima,” katanya.

Terkait adanya klaim penyelesaian damai dari pihak rumah sakit, keluarga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kesepakatan resmi yang tercapai. Menurut mereka, perdamaian tidak cukup hanya dengan permintaan maaf tanpa kejelasan tanggung jawab dan konsekuensi.

“Damai itu harus ada kesepakatan tertulis, tanpa tekanan, dan ada konsekuensi yang jelas bagi klien kami. Ini hanya permohonan maaf dan pengakuan kelalaian,” ujarnya.

x|close