Ntvnews.id, Markas PBB - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyerukan agar perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terus dilanjutkan sebagai upaya mencari solusi damai atas konflik yang sedang berlangsung. Seruan tersebut disampaikan melalui juru bicaranya pada Senin, 13 April 2026.
Juru bicara Sekjen PBB, Stéphane Dujarric, menjelaskan bahwa meskipun perundingan yang berlangsung di Islamabad dengan mediasi Pakistan belum menghasilkan kesepakatan, proses tersebut mencerminkan keseriusan kedua pihak untuk berdialog.
"Meskipun tidak ada kesepakatan yang dicapai dalam perundingan antara AS dan Iran di Islamabad yang dimediasi oleh Pakistan, diskusi tersebut menunjukkan keseriusan keterlibatan kedua pihak serta merupakan langkah positif dan bermakna menuju dimulainya kembali dialog," kata Stephane Dujarric, Juru Bicara (Jubir) Sekjen PBB, dalam sebuah pernyataan.
Ia menegaskan bahwa perbedaan yang mendalam di antara pihak-pihak terkait membuat kesepakatan tidak bisa diraih dalam waktu singkat, sehingga diperlukan kesinambungan dialog secara konstruktif.
Baca Juga: Prabowo Bertemu Sekjen PBB António Guterres, Bahas Perdamaian Palestina dan Peran di Multilateral
"Mengingat perbedaan yang sangat mengakar, kesepakatan tidak dapat dicapai dalam semalam, dan sekjen menyerukan agar perundingan dilanjutkan secara konstruktif agar kesepakatan dapat diraih," ungkapnya.
Lebih lanjut, PBB menilai bahwa konflik yang terjadi tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan militer semata, mengingat dampak kemanusiaan yang telah ditimbulkan.
"Setelah berminggu-minggu kehancuran dan penderitaan, jelas bahwa tidak ada solusi militer bagi konflik saat ini," imbuh jubir tersebut.
Selain mendorong kelanjutan dialog, PBB juga menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata serta menghentikan seluruh pelanggaran yang terjadi di lapangan.
"Di saat yang sama, gencatan senjata mutlak harus dipertahankan. Semua pelanggaran harus dihentikan, kata Dujarric."
Sekjen PBB juga mengingatkan seluruh pihak untuk menghormati hukum internasional, termasuk menjaga kebebasan navigasi di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Baca Juga: PBB Sebut Kematian Prajurit TNI di Lebanon Berpotensi Masuk Kategori Kejahatan Perang
Gangguan di jalur tersebut, menurut PBB, telah berdampak luas terhadap perekonomian global, mulai dari sektor energi hingga rantai pasok. Kondisi ini turut memperburuk kerawanan pangan akibat terganggunya distribusi pupuk dan bahan bakunya, serta meningkatkan biaya hidup masyarakat di berbagai negara.
"Gangguan dalam perdagangan maritim melalui Selat Hormuz telah memberikan dampak langsung jauh melampaui kawasan sekitarnya, dengan meningkatnya kerentanan ekonomi global dan ketidakamanan di banyak sektor, ujan sang jubir."
"Gangguan terhadap pupuk dan bahan bakunya semakin memperburuk kerawanan pangan bagi jutaan orang yang rentan di seluruh dunia, menambah kenaikan biaya hidup akibat dampak dari gangguan terhadap bahan bakar, transportasi, serta rantai pasokan, tuturnya."
(Sumber: Antara)
Orang-orang berjalan melewati pusat pers untuk pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu (114/2026). ANTARA/Xinhua/Wang Shen/aa. (Antara)