Ntvnews.id, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan intensitas serangan militer ke Lebanon. Permintaan ini disampaikan di tengah upaya diplomatik antara Washington dan Teheran guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
“Saya berbicara dengan Bibi dan dia akan mengurangi serangan. Saya hanya berpikir kita harus sedikit lebih mengurangi serangan,” kata Trump kepada NBC News, Kamis, 9 April 2026, mengacu pada Netanyahu.
Trump juga menyatakan keyakinannya terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Ia menyebut dirinya “sangat optimistis” bahwa jalur diplomasi yang tengah ditempuh dapat menghasilkan solusi untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Baca Juga: Iran Klaim Rudal Hantam Kantor Pm Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem
Di sisi lain, Netanyahu sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah Israel telah diarahkan untuk membuka dialog langsung dengan Lebanon. Langkah ini bertujuan untuk melucuti persenjataan kelompok Hizbullah sekaligus membangun fondasi perdamaian antara kedua negara yang selama ini diliputi ketegangan.
Pada Selasa malam, 7 April 2026, Trump lebih dulu mengumumkan adanya gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. Kesepakatan tersebut dicapai dengan syarat Teheran bersedia membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz yang sebelumnya sempat dibatasi.
Setelah pengumuman tersebut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan kesiapan untuk memulai pembicaraan dengan Amerika Serikat di Islamabad pada Jumat, 10 April2026. Namun, Trump menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran, mengingat keterlibatan Hizbullah dalam konflik tersebut. Iran pun menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai dengan Washington.
Baca Juga: Usai Paus Leo XIV Kritik Perang, Pemerintahan Trump Ancam Gunakan Kekuatan Militer Terhadap Vatikan
Gencatan senjata ini menjadi titik terang setelah eskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di kawasan, serta membatasi lalu lintas di Selat Hormuz. Situasi ini sempat mengganggu pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga di pasar internasional.
(Sumber: Antara)
Foto menunjukkan kebakaran yang disebabkan oleh serangan udara Israel di Beirut, Lebanon, Rabu (8/4/2026). ANTARA/Xinhua/Bilal Jawich/aa. (Antara)