Ntvnews.id
Berdasarkan laporan koresponden Anadolu, operasi militer tersebut berlangsung dalam skala besar dan intens. Pihak militer Israel sebelumnya mengklaim telah menggempur lebih dari 100 titik dalam kurun waktu sekitar 10 menit, mencakup wilayah Beirut, Lembah Beqaa, hingga Lebanon bagian selatan.
Baca Juga: 2 Prajurit TNI Terluka di Lebanon Dirawat di Beirut, TNI Tunggu Hasil Investigasi UNIFIL
Serangan yang terjadi pada Rabu ini disebut sebagai gelombang paling besar sejak konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah pecah pada 2 Maret lalu. Hingga kini, jumlah korban tewas akibat rangkaian serangan tersebut dilaporkan mencapai sedikitnya 254 orang, dengan 92 korban berada di Beirut.
"Kami menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan selatan," kata Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine kepada Al Jazeera.
Situasi semakin kompleks karena serangan ini berlangsung setelah Iran dan Amerika Serikat pada Selasa, 7 April 2026 mengumumkan gencatan senjata sementara selama dua pekan. Kesepakatan tersebut dimaksudkan sebagai langkah awal menuju penyelesaian konflik antara Washington dan Tel Aviv dengan Teheran yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah tersebut tidak hanya berdampak pada meningkatnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu gangguan pada penerbangan internasional.
Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Ancam Gencatan Senjata Bubar Gegara Israel Serang Lebanon
Selain itu, krisis energi global turut memburuk akibat pembatasan aktivitas di Selat Hormuz yang dikuasai Iran sebagai respons atas serangan dari pihak AS dan Israel.
(Sumber: Antara)
Asap mengepul di atas kawasan permukiman setelah serangan Israel di Beirut, Lebanon pada Rabu (8/4/2026). ANTARA/Houssam Shbaro/Anadolu/pri. (Antara)