Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran mengumumkan kenaikan upah minimum lebih dari 60 persen di tengah konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kebijakan ini diumumkan beberapa bulan setelah gelombang demonstrasi antipemerintah yang dipicu ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi negara tersebut.
Iran diketahui melakukan penyesuaian upah minimum setiap tahun guna memperhitungkan tingkat inflasi. Dalam beberapa bulan terakhir sebelum pecahnya perang pada 28 Februari, inflasi di negara tersebut melonjak tajam akibat sanksi internasional yang menekan perekonomian.
Dilansir dari AFP, Selasa, 17 Maret 2026, Kenaikan upah minimum tersebut, diumumkan langsung oleh Menteri Tenaga Kerja Iran pada Minggu, 15 Maret 2026 waktu setempat.
Dalam keterangannya yang dikutip kantor berita Tasnim News Agency, Menteri Tenaga Kerja Iran menyebut bahwa "dengan persetujuan pemerintah", upah minimum bulanan akan naik dari 103 juta rial Iran (sekitar Rp1,3 juta) menjadi 166 juta rial Iran (sekitar Rp2,1 juta) pada tahun kalender Persia yang akan dimulai dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Ukraina Hentikan aliran Minyak Druzhba karena alasan Politik
Selain kenaikan upah minimum, pemerintah juga mengumumkan peningkatan tunjangan anak bagi para pekerja.
Sementara itu, menurut data dari situs pemantauan nilai tukar Bonbast, mata uang Iran saat ini diperdagangkan sekitar 1,47 juta rial terhadap satu dolar Amerika Serikat.
Sebelumnya, gelombang protes terkait kondisi ekonomi telah meletus sejak Desember tahun lalu. Demonstrasi dipicu oleh meningkatnya biaya hidup serta merosotnya nilai mata uang nasional Iran.
Aksi protes tersebut kemudian meluas menjadi gerakan antipemerintah secara nasional yang menyerukan diakhirinya kepemimpinan ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Kapal patroli Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz. (ANTARA/Xinhua) (Antara)
Otoritas Iran menanggapi aksi demonstrasi itu dengan tindakan keras. Kelompok-kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa penindakan tersebut menewaskan ribuan orang.
Situasi tersebut juga memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sempat melontarkan ancaman intervensi militer terhadap Iran.
Tidak lama setelah itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari. Di tengah konflik tersebut, Trump beberapa kali menyerukan kepada rakyat Iran agar memanfaatkan momentum untuk bangkit dan mengambil alih kendali atas negara mereka.
Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)