Ntvnews.id, Taheran - Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 223 perempuan dan 202 anak-anak meninggal dunia akibat rangkaian serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026.
“Korban tewas mencakup tiga perempuan hamil dan 12 anak-anak di bawah usia lima tahun,” ujar Kementerian Kesehatan Iran, dikutip dari Kantor Berita Fars, Selasa, 17 Maret 2026.
“Selain korban jiwa, kementerian juga mencatat sedikitnya 41 anak-anak mengalami luka-luka akibat gempuran tersebut,” imbuh pernyataan tersebut.
Selain menimbulkan banyak korban dari kalangan sipil, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel juga dilaporkan menyebabkan kerusakan pada fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah Iran. Kementerian Kesehatan menyebut sedikitnya 153 pusat layanan kesehatan mengalami kerusakan serius sehingga menghambat penanganan medis darurat.
Baca Juga: Malaysia Sebut Serangan Terhadap Iran adalah Perang yang dipaksakan
Ketegangan bersenjata di kawasan meningkat tajam sejak akhir Februari setelah Israel bersama Amerika Serikat melancarkan operasi militer ke wilayah Iran. Serangan tersebut diperkirakan telah menewaskan sekitar 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal yang menyasar wilayah Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.
Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa penyerangan terhadap infrastruktur sipil oleh pasukan gabungan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional.
Hingga kini, pemerintah di Washington maupun Tel Aviv belum memberikan pernyataan resmi terkait data korban perempuan dan anak-anak yang dirilis oleh Teheran tersebut.
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. (Antara)