G7 Bicarakan Rencana Pengawalan Kapal di Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mar 2026, 18:15
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Negara-negara Kelompok G7. (ANTARA/Anadolu/py) Ilustrasi - Negara-negara Kelompok G7. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)

Ntvnews.id, Tokyo – Kelompok Tujuh (G7) sepakat untuk menjajaki kemungkinan pengawalan terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah setelah kondisi keamanan dinilai memungkinkan. Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, menurut pernyataan Prancis yang saat ini memegang presidensi G7.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu, 11 Maret 2026 setelah pertemuan daring para pemimpin negara anggota G7, Pemerintah Prancis menyampaikan bahwa rencana pengawalan kapal tersebut bertujuan untuk memulihkan kebebasan navigasi di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara dalam konferensi pers di Tokyo pada Kamis mengatakan bahwa pengumuman terkait rencana tersebut merupakan keputusan yang diambil oleh Prancis sebagai ketua G7 tahun ini.

Ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai langkah tersebut.

Baca Juga: G7 Bahas Cadangan Minyak Global di Tengah Konflik AS-Israel dan Iran

Jepang sendiri diperkirakan akan menghadapi pertimbangan yang cukup rumit terkait kemungkinan keterlibatan dalam rencana pengawalan kapal oleh negara-negara anggota G7.

Hal ini berkaitan dengan kebijakan keamanan Jepang yang sejak lama berfokus pada pertahanan eksklusif sesuai dengan konstitusi yang menolak perang.

Dalam kebijakan tersebut, Jepang hanya memperbolehkan penggunaan kekuatan militer secara terbatas sebagai bagian dari hak bela diri kolektif.

"Menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah adalah hal yang sangat penting bagi Jepang dan kami akan terus bekerja sama erat dengan negara-negara terkait, termasuk anggota G7, serta melakukan segala upaya diplomatik yang diperlukan untuk meredakan situasi secepat mungkin," tambah Kihara selaku juru bicara utama Pemerintah Jepang.

Ketergantungan energi juga menjadi salah satu faktor penting bagi Jepang.

Baca Juga: G7 Bahas Krisis Timur Tengah dan Rencana Pelepasan Cadangan Minyak Global

Negara tersebut mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, sehingga sangat rentan terhadap kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang dapat menghambat distribusi minyak dan gas dari para pemasok di kawasan tersebut.

Situasi ini semakin mendapat perhatian setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir bulan lalu.

(Sumber: Antara)

x|close