DK PBB Gagal Sahkan Resolusi Rusia soal Penghentian Aktivitas Militer di Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mar 2026, 16:01
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
DK PBB menolak rancangan resolusi tersebut, yang diajukan oleh Rusia, dengan empat suara mendukung, dua menolak, dan sembilan abstain. Rusia, China, Pakistan, dan Somalia memberikan suara mendukung, sementara Amerika Serikat (AS) dan Latvia menolak. DK PBB menolak rancangan resolusi tersebut, yang diajukan oleh Rusia, dengan empat suara mendukung, dua menolak, dan sembilan abstain. Rusia, China, Pakistan, dan Somalia memberikan suara mendukung, sementara Amerika Serikat (AS) dan Latvia menolak. (Antara)

Ntvnews.id,

Jakarta - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Rabu, 11 Maret 2026 waktu setemppat tidak berhasil mengesahkan rancangan resolusi yang menyerukan kepada seluruh pihak untuk menghentikan aktivitas militer serta menahan diri dari peningkatan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan wilayah sekitarnya. Naskah tersebut juga berisi kecaman terhadap serangan yang menargetkan warga sipil maupun infrastruktur sipil.

Rancangan resolusi yang diajukan oleh Rusia itu tidak lolos setelah proses pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB.

Hasil voting menunjukkan empat negara memberikan dukungan, dua negara menolak, dan sembilan negara memilih abstain.

Negara yang mendukung yakni Rusia, China, Pakistan, dan Somalia. Sementara Amerika Serikat dan Latvia memberikan suara penolakan.

Menanggapi hasil tersebut, perwakilan tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menyampaikan kekecewaannya.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah, Puan Minta PBB Segera Bertindak

"Kami sangat kecewa," ujar perwakilan tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia, seraya menyebut bahwa banyak anggota DK PBB tidak mampu menghimpun cukup kekuatan dan kebijaksanaan untuk mengesahkan naskah resolusi yang diusulkan negaranya.

Sebelumnya, Dewan Keamanan PBB telah lebih dahulu mengesahkan rancangan resolusi lain yang berkaitan dengan krisis di Timur Tengah.

Ketegangan tersebut dipicu oleh serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada Sabtu 28 Februari 2026, serta serangan balasan Iran di berbagai wilayah di Timur Tengah.

Rancangan resolusi tersebut diajukan oleh Bahrain atas nama Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC).

Baca Juga: Iran Desak Dewan Keamanan PBB Bertindak Tegas Atas Serangan AS dan Israel

Dokumen itu disetujui dengan 13 suara mendukung dan dua abstain.

Isi resolusi antara lain mengecam serangan Iran terhadap negara-negara GCC dan Yordania, mendesak Iran segera menghentikan serangan tersebut, serta menyatakan tindakan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman serius terhadap keamanan internasional.

Menanggapi resolusi tersebut, perwakilan tetap Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyampaikan penolakannya.

"Perlu saya jelaskan: Resolusi ini merupakan ketidakadilan yang nyata terhadap negara saya, korban utama dari tindakan agresi yang terang-terangan. Kami menganggapnya tidak adil dan melanggar hukum, tidak sejalan dengan Piagam PBB dan hukum internasional," kata perwakilan tetap Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani.

(Sumber: Antara)

 

x|close